JAKARTA – Anggota Komite III DPD-RI kembali diundang untuk kegiatan internasional. Hal tersebut tentunya menjadi sebuah kebanggaan bagi masyarakat Aceh.
“Alhamdulillah, kita diundang ke Holand Faradiso Festival di Belanda. Kita sebanyak 12 orang personil Kande pada event internasional dari sekian banyak event dunia yang telah pernah kita ikuti,” ungkap Rafli melalui siaran pers, Senin, 12 Juni 2017.
Menurutnya, kegiatan ini merupakan momentum penting dalam mempromosikan budaya nusantara dan khususnya Aceh ke belahan Eropa. Kendatipun diundang secara profesional, namun secara tidak langsung Rafli Kande yang kini berada di komite III DPD-RI yang juga membidangi seni budaya telah mengekspose seni budaya Aceh ke level internasional, kendatipun dalam momentum ini Rafli tidak menggunakan fasilitas sebagai seorang senator.
“Sebenarnya tugas seni budaya ini memang sudah menjadi kewajiban kita sebagai anggota komite III DPD-RI, kita hadir mewakili Aceh khususnya dan Indonesia untuk mempromosikan seni budaya Aceh di belahan Eropa. Alhamdulillah, dari sekian banyak grup kita kembali dipercayakan untuk tampil di event internasional,” tambah Rafli.
Lebih lanjut Rafli mengatakan, menurutnya untuk mandatangkan banyak masyarakat dunia ke Aceh, termasuk Aceh Selatan, cukup buat event skala internasional di daerah-daerah.
“Untuk mendatangkan masyarakat dari berbagai belahan dunia ke daerah yang memberi dampak langsung maupun tidak kepada ekonomi dan PAD cukup kita buat event internasional yang monumental di daerah. Tak perlu kita undang investor buka tambang-tambang segala, karena justru mengundang bencana ke daerah kita,” terang Rafli.
Lebih lanjut Rafli mengakui, selama ini dirinya punya hubungan baik dengan berbagai pihak di di kalangan internasional.
“Kenapa tidak ke depan kita buat Dragon City Festival, hal itu menarik untuk judul dan filosofinya, “wak kecek en dikacibieh he wak,” tutur Rafli.
Menurut senator yang sejak dulu menggeluti bidang seni budaya Aceh ini, budaya Aceh itu sangat menarik di mata masyarakat internasional, sehingga perlu dilakukan upaya-upaya untuk melestarikan dan mempromosikan seni budaya Aceh ke mancanegara.
“Budaya kita sejak masa endatu dikenal oleh dunia, sebagai generasi penerus hendaknya kita terus berupaya melestarikan dan mengembangkannya. Lagu Ujen Intiak-Intiak jo sampai ka Eropa, ken mantap tu,” pungkas putra kelahiran Samadua itu dalam bahasa daerahnya.[]
Laporan Taufan Mustafa




