LHOKSUKON – Hampir 85 persen ruang belajar di SMA Negeri 3 Putra Bangsa, Lhoksukon, Aceh Utara diperkirakan rusak parah. Lantai keramik bergelombang, bahkan sebagian sudah hancur. Dinding bangunan hampir di setiap sudut retak dan plafon pun banyak yang sudah bolong. Demikian juga dengan aula atau ruang pertemuan yang hanya tinggal menunggu runtuh.
Itulah gambaran kondisi terkini SMA Negeri 3 Putra Bangsa. Padahal, sekolah yang terletak di Jalan Medan – Banda Aceh KM 300, Gampong Tutong, Kecamatan Lhoksukon itu dikenal dengan sebutan SMA Unggul.
Sekolah ini dinegerikan pada 17 Januari 2006 dengan nomor SK Penegrian : 420/12/2006 tanggal 17 Januari 2006. Penerapan sistem belajar boarding school dan full day mengantarkan sekolah ini menjadi terfavorit di Aceh Utara. Tingkat kelulusan siswa setiap tahunnya mencapai 100 persen, bahkan 50 persen di antaranya selalu mendapatkan undangan dari berbagai perguruan tinggi favorit di Indonesia.
“Sekolah kita memang terfavorit di Aceh Utara. Siswa-siswa yang ada di sini memang benar-benar siswa yang memiliki keinginan belajar tinggi. Di sini kan belajar hingga sore hari, jika memag siswa tidak punya kemauan, dari awal pasti tidak mau masuk sekolah ini,” ujar Wakil Kepala SMAN 3 Putra Bangsa, Murhati, S.Pd., saat ditemui portalsatu.com/, Kamis, 23 November 2017.
Murhati menyebutkan, sekolah tersebut memiliki 15 ruang belajar, tetapi hanya 13 ruang yang digunakan, 10 ruang untuk Jurusan IPA, sedangkan tiga lainnya Jurusan IPS. Untuk asrama terdapat tujuh unit, tiap-tiap unit berjumlah empat kamar.
“Jika berbicara tentang kekurangan, maka sekolah kita sangat banyak kurangnya. Hampir 85 persen ruang belajar rusak, lantai bergelombang dan hancur, dinding banyak retak, plafon sudah bolong, bahkan banyak yang tinggal tunggu runtuh. Kondisi aula lebih memprihatinkan dan butuh renovasi total, lantai hancur dan bergelombang, kuda-kuda sudah jauh terpisah, apalagi dindingnya, sudah tidak terhitung berapa titik yang retak. Lantai musala juga demikian, sudah amblas dan retak,” ungkap Murhati.
Selain itu, lanjut Murhati, sekolah tersebut hanya memiliki empat toilet untuk siswa. “Toilet siswa empat unit dengan jumlah 257 siswa. Jika dilihat dari rasio, jelas sangat tidak mencukupi karena perbandingan rasio 1:40 siswa, jadi kita butuh empat toilet lagi, apalagi toilet sekarang kondisinya sudah kurang bagus. Untuk aula, itu rutin kita gunakan. Para siswa belajar english club di malam hari memang selalu menggunakan aula. Itu yang kita khawatirkan karena sewaktu-waktu bisa runtuh,” ucapnya.
Menurut Murhati, kerusakan itu sudah lama terjadi, tetapi kian parah pascabanjir besar melanda Lhoksukon pada Desember 2014 lalu. “Waktu banjir 2014, ketinggian air di dalam ruang belajar di atas 60 sentimeter. Setelah banjir, tanah dasar bangunan turun, makanya bangunan banyak yang rusak. Kita sudah ajukan proposal berulang kali, tapi hingga kini belum ada respons. Bukan hanya bangunan, kita juga butuh pagar dengan keliling 900 meter. Selain itu, kita juga sama sekali tidak punya ruang multimedia. Untuk sebuah sekolah unggulan di Aceh Utara, tentunya kita sangat butuh ruang multimedia,” beber Murhati.
Murhati menambahkan, kondisi jalan lintas menuju sekolah juga belum memadai. “Lihat sendirilah bagaimana kondisi jalan menuju sekolah. Memang ini sudah sedikit lumayan jika dibandingkan dulu, tapi tetap saja jika hujan sangat becek,” katanya.
SMA Negeri 3 Putra Bangsa memakai kurikulum K-13 sehingga pada sore hari hanya dikhususkan pada pelajaran yang masuk dalam Ujian Nasional, baik itu untuk Jururan IPA maupun IPS.
“Wacana awal ada pemisahan antara boarding school dan full day. Namun kuota siswa tidak mencukupi sehingga digabung antarkeduanya. Perbedaannya boarding tinggal di asrama, full day pulang. Namun jam belajarnya sama, efektifnya dari pukul 7.30 WIB hingga 16.30 WIB, khusus Senin, Selasa, dan Rabu. Untuk Kamis, Jumat, Sabtu, siswa mengikuti ekstrakurikuler dengan masing-masing pilihannya dari pukul 14.30 hingga 17.00 WIB,” kata Murhati yang mendapat aggukan dari Kepsek Drs. Jabangun R.M.[] (*sar)

