(Bagi seorang muslim, misalnya, nilai benefit dari berbelanja bukan hanya kepuasaan akan barang dan jasa tapi juga maknanya secara ruhiyah, fungsinya secara maslahah, sehingga belanja yang dilakukan bernilai ibadah pula; inilah bagian dari ekonomi identitas di tengah arus negatifitas ekonomi dunia)

Mari kita awali  dari perspektif 212 yang lazimnya tidak asing lagi di ruang dialog masyarakat umum. Angka 212 pada mulanya hanya penanda waktu prihal aksi massa dalam menyuarakan pembelaan ummat Islam terhadap teks suci Alquran, yang dianggap telah dinistakan. Lalu aksi massa yang berpusat di ibukota itupun menjadi trend tersendiri yang terpatri kuat di benak publik, terkhusus masyarakat Islam, hatta di gelar pula aksi sejenis untuk versi reuniannya dalam momen yang berbeda. Maka dalam rentang waktu yang relatif singkat, ingatan publik tentang 212 semakit melekat, sebagaimana banyaknya kenangan dan kesan baik serta sikap humanis para peserta aksi yang menjadi saksi sejarah tentang aksi tersebut.

Berkembangnya ragam media sosial ataupun media massa di abad teknologi informasi ini menjadi bagian hidup yang tak terelakkan. Melalui pendekatan ini pula ingatan publik tentang aksi 212 tadi terus digulirkan, disandingkan dengan varian gerakan subuh berjama’ah, disemarakkan dengan rangkaian pembangunan kesadaran ummat untuk bersatu dalam membela agama dan negara, dengan klimaks betapa urgennya arti kepemimpinan dan betapa kuatnya pengaruh ekonomi.

Dari arus informasi tersebut dan kenyataan yang tampak prihal ketimpangan hegemoni politik dan ekonomi (juga ekosistem hunian megapolitan), maka muncullah resolusi konsep toko/gerai belanja 212 dari rangkaian pertemuan sesepuh alumni aksi, yang diaplikasikan dalam bentuk koperasi 212 atau sejenisnya yang bertujuan untuk membangun ekonomi ummat Islam secara kolektif, adil dan transparan serta sesuai dengan kaidah. Hingga tulisan ini diturunkan beberapa daerah Aceh sudah mulai membangun relasi dan persiapan manajemen secara utuh untuk siap beroperasi secepatnya.

Metaforma Belanja dan Benefitnya

Gambaran aksi massa yang fenomenal di atas telah membangun ruang konsep tersendiri di benak setiap orang, baik  ia terlibat langsung atau hanya terkoneksi secara emosi (utama karena intrik-citra kepentingan penguasa/negara) maupun spiritualitas. Sehingga ketika ruang konsep tadi telah terbangun secara sadar, dengan berdirinya ritel dan toko 212 di beberapa daerah dan lokasi, maka diharapkan terbangun pula metaforma sikap belanja masyarakat yang mengedepankan kepentingan internal dan maslahah atau dikenal dengan ekonomi identitas.

Artinya, menurut hemat penulis,  konsep belanja di toko 212 merupakan konsep baru yang butuh kontruksi dan edukasi budaya belanja:  dari berbasis hedonis dan gaya hidup ke yang berbasis spiritual atau nilai religius. Hermawan kartajaya (pendiri mark plus) mengakui adanya peran kekuatan nilai yang dianut seseorang saat menentukan pilihan dalam berbelanja atau bertransaksi lainnya.

Dalam kaitan penentukan pilihan ini maka diperlukan dorongan perilaku belanja yang bermetaforma dari bentuk (forma) kebiasaan lama, menjadi  suatu keputusan objektif (lewat kognisi) yang menghasilkan perilaku baru dengan dasar transendental. Bagi seorang muslim, misalnya, nilai benefit dari berbelanja bukan hanya kepuasaan akan barang dan jasa tapi juga maknanya secara ruhiyah, fungsinya secara maslahah, sehingga belanja yang dilakukan bernilai ibadah pula. Disebutkan pula bahwa di era perkembangan informasi dan pesatnya persaingan nilai global, menuntut para produsen untuk tidak hanya menjual barang atau jasa, melainkan menjual konsep dan solusi. Dalam skala inilah nilai lebih dari gerai/toko 212 yang diharapkan dapat dikembangkan dan dikelola dengan prinsip mutu yang maksimal.

Langkah Persaingan

Persaingan antartoko sejenis pasti tak terhindarkan, itulah yang terjadi di tengah menjamurnya bergam produk sejenis dengan layanan dan system modern. Produsen tidak bisa hanya bergantung pada emosi masyarakat akan merek atau trend tertentu, karena sikap emosi itu akan senatiasa tergerus oleh rangkaian stimulan lainnya.

 Paling minimal, manajemen koperasi 212 dapat menghadirkan kualitas barang dan layanan plus yang sama baiknya, seiring dengan harga rasional pula. Dari segi teknologi, pihak manajemen bisa bersinergi dengan vendor jasa kurir berbasis aplikasi, Menerapkan pola belanja online untuk item tertentu. Rangkaian upaya penyadaran dan edukasi komunitas belanja tampaknya tetap relevan dengan mempertimbangkan minat, hobi dan  momen tertentu selama dianggap tidak membosankan dan memberikan nilai banding yang tinggi di masyarakat. Menggalakkan paket beasiswa tertentu dan berkolaborasi dengan pemerintah dan lembaga setempat juga sangat baik sebagai langkah menyiasati persaingan pasar.

Alhasil, berdirinya toko-toko 212 di daerah kita memerlukan perhatian tinggi dan dukungan dari semua pihak, terutama dari pemerintah setempat yang mesti mengedepankan nilai lokal dan memberi keuntungan langsung bagi roda ekonomi warganya, sehingga koperasi 212 pun dapat disebut sebagai perintis metakreasi masyarakat muslim dalam mewujudkan kemakmuran Indonesia dengan ragam produk dan layanannya; insyaa Allah.

Penulis: Taufik Sentana. Sangat interes terhadap perkembangan sosial-budaya. Bergiat di forum Bina Potensi Ummat Aceh Barat. Mengembangkan layanan seminar berbasis komunitas untuk pemberdayaan dan pengembangan SDM. E-Mail (pos-el): taufiksentana@gmail.com