Beberapa hari yang lalu, salah satu status di sosmed tertulis ” Tak perlu dalil untuk mencintai rasul Muhammad saw”. Kalimat ini tidak bermakna menolak ilmu sebelum amal, melainkan sebagai perspektif bahwa ekspresi mencintai rasul bisa bermacam wujud selama terlepas dari kultus dan hal yang terlarang.
Syiar maulid rasul yang telah mengakar di kultur masyarakat muslim tidak perlu dibingkai sebagai sesuatu yang “menjerumuskan” ke neraka. Sebab sejatinya perkara ini sudah selesai pada abad keeenam Hijriyah. Kita hanya perlu fokus pada kontekstualisasi perayaan maulid tersebut agar semakin berdampak secara sosial khususnya.
Para ulama Syafi'i umumnya membatasi kegiatan mauludan pada aspek berikut:
pertama, pengajian dan uraian sirah Nabi Muhammad SAW. Kedua, zikir dan doa. Ketiga, silaturahim dan sedekah/kenduri (santunan yatim). Kegiatan tersebut mestilah terhindar dari pelanggaran syariat (berbaur antarlaki dan perempuan), mubazir, sikap zalim dan meninggalkan kewajiban saat kegiatan berlangsung.
Pihak lembaga sekolah dan sejenisnya juga bisa memanfaatkan momen maulidan ini sebagai forum lomba prestasi siswa/warga dalam mata lomba keagamaan khususnya, seperti cerdas cermat sejarah Nabi Muhammad SAW, menulis syair, hafalan Quran dan Hadis atau seni kaligrafi dan pidato.
Kita tidak perlu antipati terhadap ekspresi kultural (baca: dakwah bil hal) masyarakat selama ada dalil umum yang mendasarinya dan terhindar dari syirik atau pelanggaran syariat.[]
Taufik Sentana
Mendalami studi Islam di Ma'had Darul Arafah Medan dan Misbahul Ulum Aceh. Staf Ikatan Dai Indonesia. Kab. Aceh Barat.


