BLANGKEJEREN – Harga kopi arabika di Kabupaten Gayo Lues mulai bergerak naik menjelang musim panen raya tahun 2026. Sejumlah petani yang memiliki luas kebun satu hektare sudah bisa mendapatkan hasil panen tujuh kaleng atau 70 bambu per dua minggu sekali.

Salah seorang petani kopi arabika di Kabupaten Gayo Lues, Aman Adit Kamis, 13 Agustus 2026, mengatakan musim panen kopi gayo tidak pernah berhenti sepanjang tahun di Gayo Lues, tetapi musim panen raya berlangsung dua kali musim dalam satu Tahun.

“Kopi arabika di Gayo Lues tidak pernah berhenti berbuah, setiap dua minggu sekali harus dipanen, cuma jumlahnya terkadang hanya satu hingga tiga kaleng,” katanya.

Sementara musim panen raya akan berlangsung mulai bulan Agustus hingga Desember, setelah itu akan jeda sebentar dan panen raya lagi di bulan April.

“Untuk harga gabah kopi arabika di Kabupaten Gayo Lues Alhamdulilah sudah mulai bergerak naik, jika sebelumnya hanya Rp 55 ribu hingga Rp 57 ribu per bambu, sekarang rata-rata toke sudah menaikan harga menjadi Rp 60 ribu hingga Rp 62 ribu per bambu, itupun tergantung kualitas gabah kopinya,” ujarnya.

Biasanya kata Aman Adit, pembeli yang menawarkan harga tinggi itu adalah toke keliling untuk memenuhi pesanan dari pelanggam luar daerah, untuk itu, petani kopi yang hendak menjual gabah kopinya diharapkan bertanya dulu kepada beberapa toke supaya mengetahui harga tertinggi.[]