ACEH UTARA – Kaum ibu korban banjir bandang dari Dusun Bahagia, Gampong Rumoh Rayeuk, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara, mencuci pakaian memanfaatkan genangan air hujan di kebun sawit dekat tenda pengungsian di Dusun Bola Mas, Gampong Langkahan. Saat ini ratusan warga Dusun Bahagia mengungsi di Gampong Langkahan, Kecamatan Langkahan.
Pantauan portalsatu.com/, Ahad, 21 Desember 2025, kaum ibu itu memanfaatkan genangan air berjarak sekitar 50 meter dari tenda biru yang didirikan masyarakat secara swadaya. Mereka mencuci pakaian menggunakan air keruh di lubang besar menyerupai kolam tanah dalam kebun sawit tersebut.
Mereka menggunakan dua timba dan satu ember untuk mencuci pakaian. Sedangkan alas untuk mencuci diletakkan plastik bening di atas tanah di bibir genangan air itu.
“Tidak tahu di mana sumber air bersih untuk bisa mencuci pakaian, makanya selagi ada genangan air ini kami manfaatkan meskipun airnya keruh. Kalaupun ada disalurkan air bersih oleh pihak lain kepada pengungsi di sini, itu untuk kebutuhan minum sehari-hari dan tidak mungkin digunakan keperluan mencuci pakaian,” kata Ayu, pengungsi dari Dusun Bahagia.

[Korban banjir mencuci pakaian memanfaatkan genangan air di kebun sawit dekat tenda pengungsian di Dusun Bola Mas, Gampong Langkahan, Ahad, 21 Desember 2025. Foto: Fazil/portalsatu]
Ayu menyebut tidak ada pilihan lain bagi kaum ibu di lokasi pengungsian itu sehingga terpaksa mencuci pakaian dengan memanfaatkan genangan air. “Ini kondisi darurat, beginilah keadaan kami,” ucapnya.
Dia meminta pemerintah memberikan perhatian maksimal kepada semua pengungsi korban banjir bandang di Aceh Utara. “Masih banyak yang perlu diperhatikan oleh pemerintah, tidak hanya bagi kami di sini. Semua pengungsi korban banjir bandang di Aceh Utara hampir sama keluhannya,” ungkap Ayu.
Ayu menilai hingga tiga pekan pascabanjir bandang di Kecamatan Langkahan belum ada tanda-tanda perubahan signifikan. “Coba dicek ke desa-desa sampai sekarang masih banyak rumah masyarakat yang tertimbun lumpur tebal di pekarangan bagi yang masih punya rumah”.
“Kalau saya jangan ditanya lagi, sudah pasrah karena rumah sudah tiada akibat diterjang banjir. Tetap bersyukur, yang penting keluarga kami selamat dan dalam keadaan sehat. “Kita berharap kepada pemerintah agar ke depan merealisasikan pembangunan hunian sementara bagi warga terdampak banjir. Ini paling utama dibutuhkan masyarakat,” ujar Ayu sambil mencuci baju.[]





