TAKENGON – Ayah tiga anak ini pernah menjadi buah bibir. Lengan sebelah kirinya hilang, ketika dia menjinakkan bom buku. Tanggal dan waktu kala itu tetap diingatnya. Selasa, 15 Maret 2011, di Kantor Berita Radio (KBR) 68 H, Utan Kayu, Jakarta Timur. Kini dia menjadi Kapolres Aceh Tengah, Senin, 18 April 2016.

Selama berada di Gayo, suami Silvia Said Al Amry ini aktif berbagai kegiatan. Dengan ulama dia dekat, bergaul tidak pilih teman. Ikut menjadi motivator bagi orang lain. Dia bahkan kini menggalakkan polisi berkebun. Seminar tentang kopi juga diadakanya. 

Bahkan sejumlah kegiatan lainnya sukses diselenggarakan. Dia sudah mulai memahami falsafah Gayo. Inilah sosok AKBP. Dodi Rahmawan, sang Kapolres di Gayo Lut, yang mau melakukan apapun demi kebaikan.

Ketika menyelenggarakan seminar tentang peningkatan kualitas kopi Gayo, banyak pihak yang tersentak. Kapolres mengadakan seminar tentang kopi, bukan tentang Kamtibmas. Demikian juga ketika dilaksanakan offroad open yang memperebutkan sebuah mobil, Kapolres menjadi pendukung utama yang aktif mendampingi panitia. Baru-baru ini, Kapolres Cup menjadi tajuk Kontes Burung Berkicau se-Sumatra yang juga berlangsung sukses.

Partisipasinya yang tinggi dalam berbagai even daerah, tak pelak membuat masyarakat Gayo mulai mengagumi lelaki yang rajin ke masjid ini. Prinsipnya tegas, menegakan hukum tanpa pandang bulu. Siapa yang bersalah akan mempertanggungjawabkan perbuatannya di depan hukum.

Namun ada kalanya dia menyarankan masyarakat untuk menyelesaikan persoalannya sendiri. Tidak harus dilaporkan ke polisi. 

“Gayo itu berbudaya dan masyarakatnya mampu menyelesaikan masalah, kan tidak harus semuanya ke polisi,” kata Dodi Rahmawan, dalam bincang-bincangnya dengan pers.

Kapolres ini juga siap dikritik demi perbaikan ke depan. “Mana ada manusia yang sempurna, semuanya punya kelemahan. Oleh karena itu kebersamaan kita menutupi kelemahan yang kita miliki. Masih ada beberapa persoalan penegakan hukum yang masih menjadi pekerjaan rumah (PR), karena lambat proses sidik dan beberapa kendala teknis,” ujarnya.

“Kami siap menerima kritik dan saran demi sebuah perubahan menuju perbaikan Polri di masa yang akan datang. Terima kasih Gayo untuk sebuah inspirasi dan semangat. Dari Gayo saya banyak menggali falsasah,” kata Dodi.

Dodi Rahmawan sering berkeliling seputaran Kota Takengon. Dia juga kerap masuk ke desa-desa untuk bertani. Bukan aneh bila Kapolres bertani. Dia mengajak masyarakat untuk mengefektifkan lahan pertanian agar dapat menunjang ekonomi keluarga. Ada kalanya dia memberikan benih, pupuk, dan bantuan kepada petani. 

“Kita punya teman yang membantu, kan tidak ada salahnya kita bantu petani kita. Semuanya ini semoga menjadi amal ibadah dan masyarakat terbantu,” kata Dodi.

Lelaki yang gemar ngopi di caffe seputaran kota Takengon ini juga sering menyantuni pasantren. Dia juga berusaha menyelamatkan rakyat Gayo, khususnya petani dari serangan pihak luar yang akan membeli tanah.

“Tanah milik masyarakat jangan dijual walau ada yang membelinya dengan harga mahal. Kalau dibeli puluhan hektar, lantas masyarakat pindah kemana. Masak jadi gelandangan di negeri sendiri,” kata Kapolres ini disampaikan kepada masyarakat pedesaan yang dikunjunginya.

Dodi Rahmawan telah menoreh sejarah di bumi Gayo. Dia telah berbuat dan melakukan berbagai kegiatan untuk memotivasi masyarakat. Polisi satu ini juga hobi bertani dan menjadi inisiator berbagai kegiatan yang mengundang perhatian mayarakat. Dia tidak betah kalau hanya di kantor. Itulah sekelumit kisah polisi yang pernah menjadi korban bom buku, yang kini mengajak warga untuk giat bertani.[]