Oleh Muhajir Ibnu Marzuki
Maut tidak dapat ditolak. Semua kita telah mengikat janji dengan rabb untuk pulang kembali kepada-Nya.
Kematian itu hal pasti dan semua akan mengalaminya. Tidaklah mati seseorang bisa dipercepat dan tidak bisa pula diundurkan.
Kita tidak bisa lari dari maut yang mengintai. Di mana akan mati, bagaimana matinya dan kapan akan mati semua telah Allah tuliskan dalam catatan takdir anak manusia.
Kabar duka kembali menyelimuti tanoh Aceh, tanoh keuneubah raja. Awal bulan Februari, Aceh kehilangan sosok pejuang dan politisi dari Nagan Raya. Kemarin, Sabtu, 8 Februari 2025; Aceh kehilangan sosok pejuang tangguh dari tanoh Gayo. Ibnu Sakdan Bin Mansyur, akrab disapa Sapu Arang telah kembali ke rabb-nya.
Banyak generasi muda Gayo yang memberi catatan kenangan dengannya.
“Saya memanggil beliau Ama SAPU ARANG sebagai orang tua selama ini ia telah membuktikan kesetiannya kepada saya dan di Dunia medsos ama Almr. (Sapudiarangx) biasa memberikan tulisan “Kombatan Sebelum Hari Jum’at” pada pukul 20:00 dini hari beliau telah Berpulang ke rahmatullah “Innalillahi Wainnalillahi Rajiun.
Saya saksi hidup ia orang baik, Mohon di Ma’afkan segala kekhilafan nya. dan saat ini sudah berada di kediamannya KENAWAT LUT,” tulis Serta Lia, jurnalis di lintasgayo.co
Dalam statusnya terlihat bahwa Sertalia baru saja menulis artikel tentang tokoh pejuang kemerdekaan Aceh asal tanoh Gayo ini. Pastinya Sertalia sangat merasa kehilangan dengan sosok yang berjiwa ksatria dan setia ini.
Lain hal, Win Ruhdi Bathin juga mengenang perihal kepergian sang pejuang ini dengan tulisan pula.
“Di Kampung Kenawat Lut, Syech Sapu Arang dikebumikan, Ahad, 9 Pebruari 2025, sebelum Zuhur. Meninggalkan 7 orang anak dan semuanya sarjana. Kecuali anak bungsunya yang kini di pasantren. Menurut keluarga, selepas MoU (MoU Helsinki, 15 Agustus 2005 antara RI dan GAM), Sapu Arang menjadi petani yang ulet,” tulis Win status facebook-nya.
Win juga menulis sekilas tentang kampung tempat di mana sang pejuang itu lahir, besar, berjuang hingga kembali ke rabb-nya.
“Kenawat adalah Kampung yang paling bersejarah di Gayo. Betapa tidak. Di Kampung kecil ini telah melahirkan banyak pejuang yang ingin memerdekakan Aceh.
Dari era Presiden Soekarno hingga di era terakhir. Dari istilah DI/TII, GPK, GSA hingga Gerakan Aceh Merdeka.
Padahal Kenawat tidaklah jauh dari pusat Kota Takengon. Berada di Kecamatan Luttawar. Penduduknya hidup dari bersawah, beternak, nelayan dan berkebun,” tulis Win.
Win juga menulis bahwa Kampung Kenawat pernah ditinta merah oleh Pemerintah Indonesia.
“Tokoh terkenal Teungku Ilyas Leube berasal dari sini. Pun juga Ibnu Sakdan bin Mansur. Yusra Habib Abd Ghani, Fauzan Azima, dll. Sebagian mereka masih ada tang tinggal di luar negeri,” tulis Win.
Yang menarik perhatian saya, Win menulis kalimat terakhir yang menyentak jiwa dan membuat semangat pemuda bangkit menggelora demi agama, bangsa dan tanah air yang hilang.
“Akankah sejarah akan berulang? Tidak ada yang tahu. Waktu yang akan menjawabnya,” tulis Win.
Sosok Sapu Arang bukanlah sosok biasa. Sebagaimana diketahui, Sapu Arang merupakan mantan kombatan GAM.
Di laman Wikipedia tertulis Tgk. Ibnu Sakdan, lebih dikenal dengan nama Sapu Arang adalah mantan tokoh pejuang Gerakan Aceh Merdeka. Dia pernah menjabat sebagai Panglima Gerakan Aceh Merdeka Wilayah Linge.
Setelah damai Aceh disetujui Ibnu Sakdan bergabung dengan Partai Aceh, partai para pejuang kemerdekaan Aceh. Bahkan ia dipercaya sebagai ketua DPW Partai Aceh Wilayah Aceh Tengah.
Namun, pada tahun 2012, ia bergabung dengan PNA, partai pecahan eks pejuang kemerdekaan Aceh. Di partai baru ini pun ia dipercaya sebagai Ketua DPW Aceh Tengah hingga tahun 2022.
Yang menarik tahun 2022, Kapolres Aceh Tengah saat itu mengundang sang pejuang ini untuk curhat.
Bahkan Kapolres melalui bawahannya Akp Salmiati mengeluarkan rilis media perial curhat Kapolres dengan sang pejuang itu.
“Kecamatan Lut Tawar kami pastikan tidak akan melakukan pengibaran Bendera Bintang Bulan atau pun acara lainnya dikarenakan fokus dengan kegiatan keluarga atau kegiatan lainnya di Kp. Kenawat Kec. Lut Tawar Kab. Aceh Tengah,” ujar Akp Salmiati menirukan ucapan sang pejuang Ibnu Sakdan atau yang dikenal Sapu Arang.[]
*Muhajir Ibnu Marzuki
– Pendiri Mapesa (Masyarakat Peduli Sejarah Aceh)
– Direktur Lembaga Sumatra Institute.








