RAMAN dan Ramani ialah kakak beradik. Raman kakak si Ramani. Ayah mereka Ramansyah, dan ibu mereka Ramania. Mereka penduduk Kota Durka, sebuah kota di ujung sebuah pulau es, jauh dari tengah bumi.
Kota Durka dibangun pada abad pertengahan oleh sekumpulan orang. Merekalah tujuh puluh tujuh pasangan suami istri, para peneliti di perguruan tinggi Banda Aceh dan Lhokseumawe. Mereka meneliti teknologi dari logam, sinar matahari, kandungan bumi, dan batu alam, atas perintah Sultan Samudra Pasai.
Mereka itu turunan dari beberapa bangsa. Ada yang dari Afrika seperti keluarga Amin, ada dari Istanbul, ada dari India, dan dari Yaman. Pada suatu ketika, mereka meneliti di sekitar Laut Andaman. Namun pasukan Samudra Pasai menghadang pasukan Portugal yang menuju Selat Melaka.
Saat menghindari perang itu, datanglah badai laut, setelah beberapa hari, mereka pun terdampar di sebuah pulau es di ujung Samudra Hindia. Hasil penelitian mereka pun dikembangkan di pulau es itu. Lama-kelamaan, mereka semakin tenggelam dalam penemuan mereka secara turun temurun.
Selain para pendiri dan turunannya, tidak pernah ada seorang manusia pun sampai ke kota itu. Tidak ada penduduk asing di sana selama ratusan tahun. Kota yang hanya mengenal musim dingin ini, tidak ada dalam peta bumi manapun. Kini tempat itu menjadi Negara Pulau Es yang berpenduduk sepuluh juta jiwa.
Sampailah pada suatu ketika, sekumpulan orang dari belahan dunia lain, dunia yang mengenal musim panas dan kemarau, tiba di Kota Durka. Mereka adalah para peneliti luar angkasa dari beberapa negara yang ditugaskan memetakan ulang jalur lalu lintas udara di atas samudra.
Dalam perjalanan pulang, mesin pesawat yang mereka tumpangi rusak, kehilangan arah, jalinan bicara dengan menara kendali pun terputus. Sebelum kehabisan bahan bakar, pilot menurunkan pesawat ke air laut.
Namun, alangkah terkejutnya seluruh isi pesawat buatan penduduk bumi utara itu tatkala menyadari bahwasanya mereka mendarat di sebuah pantai pulau salju yang tidak dikenal, tidak ada di dalam peta, dan itu tidak terlihat saat mereka di langit tadi.
Mereka menyebutnya Gurun Salju.
Namun, tiba-tiba di hadapan mereka sudah ada beberapa orang yang berpakaian warna salju. Itulah Raman dan Ramani.
Mereka berdiri menghadap kumpulan orang asing itu tanpa berbicara sepatah kata pun selama beberapa saat. Hanya suara deru angin dan riak berisi salju yang berat.
“Aku adalah penjaga perbatasan Kota Durka yang tidak diperintahkan karena aku bukan seorang tentara. Tapi, bukankah mereka baru turun dari langit,” Raman memberikan alat berbentuk tinju di tangannya kepada Ramani.
Ramani mengarahkan sebuah benda ungu bening berbentuk tinju anak kecil ke dahi si kapten yang bernama Charles.
Ternyata itu alat untuk memahami isi pikiran dan bahasa orang asing. Hanya dalam beberapa detik, si pemegang benda itu memahami isi pikiran dan bahasa orang yang dibidik dengan siluet benda sebesar tinju anak kecil itu.
Batu Durka, itulah nama benda tersebut.
Aku adalah penjaga perbatasan Kota Durka yang tidak diperintahkan karena aku bukan seorang tentara, kata Raman yang selalu mengawali kata-katanya dengan kalimat sama, sebelum mengucapkan kata lain.
Orang-orang ini dari negara berbeda, dari keyakinan berbeda, lihatlah, kulit mereka beda warna, ada putih, merah, hitam, colkat, biru, dan ada yang berkulit merah muda, kata Raman melirik Ramani.
Mereka tetap berdiri di sana, tidak berbicara sepatah katapun dengan sekumpulan pendatang asing itu.
Charles, sang kapten kapal yang bertindak sebagai juru bicara rombongan orang yang terdampar itu pun tidak mencoba berbicara. Ia membuka peta, mencari letak pulau es tempat mereka terdampar itu. Setelah beberapa saat mencari, mereka tidak menemukan pulau ini di peta negara mana pun.
“Bagaimana mungkin pulau ini tidak ada di peta, tidak ada di google maps?”
Pertanyaan itu menyemaki kepala puluhan orang yang terdampar itu.
Raman pun berbicara dalam bahasa Inggris, menceritakan bahwa benda di tangannya telah memindahkan seluruh informasi dari kepala Charles dan seluruh anggotanya itu kepadanya dan Ramani.
“Bagaimana kalian membuat alat ini?” Charles menunjuk Batu Durka di tangan Raman.
“Ini mainan untuk anak-anak. Nenek moyang kami membuatnya dulu, dan kami semua membuatnya dalam julah banyak, sebagai mainan, kata Ramani.
“Kami tidak pernah tahu bahwasanya kalian ada, apalagi memiliki alat secanggih ini,” Charles berkata pelan.
Ramani mendekati pesawat.
” Kami tahu bahwa kalian para ilmuwan dari berbagai negara yang punya tim luar angkasa. Kalian mengingatkan kami pada nenek moyang, tapi maaf, kalian masih tertinggal dari kami,” kata Ramani.
Kalian menghina kami? Charles menggeleng-geleng, lalu memandang satu persatu orang yang baru terdampar bersamanya.
Aku adalah penjaga perbatasan Kota Durka yang tidak diperintahkan karena aku bukan seorang tentara. Mari, kubuat ini sederhana, Raman memperlihatkan sebuah peta yang terbuat dari siluet sinar yang keluar dari Batu Durka.
Peta dunia lengkap dengan nama kota dan gambar bangunannya, melebih google maps, pun terlihat.
Siaran televisi besar di seluruh dunia pun bisa terlihat langsung dari layar maya Batu Durka.
“Ini tidak mungkin. Kalian punya peta secanggih ini, dan di peta kami tidak ada kalian.”
“Peta kalian masih tradisional. Kalian orang yang tertinggal ratusan tahun dari kami,” kata Ramani.
“Bagaimana bisa? Kami yang menemukan kalian di sini, dan kami naik pesawat?”
“Pesawat? Untuk apa?” Ramani tertawa.
“Untuk pergi ke mana pun, menjelajah dunia, menjelajah luar angkasa.”
“Aku adalah penjaga perbatasan Kota Durka yang tidak diperintahkan karena aku bukan seorang tentara. Apakah kalian juga membuat rumah di langit dan laut? Apakah kalian bisa berjalan di udara atau di dalam air seperti di darat? Tapi itu tidak perlu, kalian tidak perlu mencari kehidupan di planet manapun, kalian hanya perlu menjaga bumi dan isinya, Raman berkata lirih.
Maka orang-orang yang keluar dari perut pesawat itu saling memandang.
“Bagaimana maksudnya? Di mana kalian tinggal. Ini hanya gurun salju, dan tadi tiba-tiba saja kalian muncul,” kata Kalashinov, pimpinan ilmuwan yang terdampar itu.
Ramani mengambil Batu Durka dari tangan Raman, lalu mengangkatnya tinggi-tinggi. Maka di hadapan mereka terlihatlah sebuah kota yang sepertinya dibangun dari kaca tembus pandang, sebagaimana di dalam lukisan atau film fantasi. Semacam sebuah kota yang terlihat dari pancaran sinar hologram.
Para ilwuwan yang terdampar itu, tanpa sengaja, mengusap-usap mata mereka, dan tanpa suara, semua mulut mereka terbuka.
Itu sihir, ilusi, kalian tukang sulap! Teriak Kalashinov.
Ini tidak nyata, ini halusinasi, Charles mendekati Raman seraya meninju wajahnya.
Ramani mengelak.
Aku adalah penjaga perbatasan Kota Durka yang tidak diperintahkan karena aku bukan seorang tentara. Kalian tamu yang tidak beradab, pikiran kalian terlalu sempit untuk disebut ilmuwan paling hebat dari beberapa negara berteknologi paling manusia di bumi, manusia seperti kalianlah yang membuat kerusakan di muka bumi, Raman menampar Charles.
Maka perkelahian pun terjadi. Senjata yang dibawa para ilmuwan terdampat tidak sempat digunakan. Dalam beberapa saat, seluruh kafilah itu ditangkap dan dibawa ke pusat Kota Durka.
Kapal yang terdampar di pantai pun ditarik dengan tolakan magnet ke dalam kota, sehingga tidak ada benda pelacak apapun yang dapat menemukannya. Para ilmuwan dan pesawatnya itu dikurung dengan pagar magnet di sebuah sudut kota, semacam dinding kaca yang mengelilingi mereka dalam radius satu kilometer.
Mereka dapat berjalan-jalan dan membuat apa saja di dalam lingkaran itu, selebihnya hanya bisa melihat keluar, tetapi tidak bisa melewatinya. Tahanan kota tapi masih izinkan membuat apa saja dengan alat yang mereka bawa di dalam pesawat.
Raman dan Ramani ditugaskan untuk mengurus para ilmuwan yang terdampar dan dipenjara itu. Akan tetapi, sebagaimana kebiasaannya, Raman lebih sering di perbatasan. Ia tidak berselera mengurus orang-orang yang tidak mengerti apa-apa tentang teknologi bangsa mereka. Ramani, walaupun sering ke perbatasan, masih mengurus keperluan para ilmuwan yang terdampar.
Setelah enam bulan berlalu, Raman memeriksa peralatan yang ada di dalam pesawat para ilmuwan yang terdampar. Di dalam sebuah ruangan itu terlihat, mereka tengah membuat alat untuk melarikan diri.
Apa kautahu mereka melakukan ini? Raman menatap Ramani.
Itu tidak berarti apa-apa, Ramani mengangguk
Aku adalah penjaga perbatasan Kota Durka yang tidak diperintahkan karena aku bukan seorang tentara. Pulanglah sekarang, dan kalian tidak pernah ke sini dan tidak pernah terjadi apa-apa.
Raman menekan sistem penghapus ingatan ke setiap kepala kafilah ilmuwan yang terdampar. Para ilmuan itu tidak akan ingat apapun yang terjadi dari satu jam sebelum terdampar sampai satu jam setelah keluar dari Kota Durka.
Raman menekan pelontar magnet berkekuatan tinggi, dan pesawat para ilmuan itu pun lepas landas, meninggalkan Kota Durka. Dalam sekejap pesawat itu menghilang dari pandangan Raman dan Ramani. Negara Pulau Es yang berpusat di Kota Durka pun kembali bersih dari orang asing.[]
Thayeb Loh Angen, penulis novel Aceh 2025, Pengurus Sekolah Hamzah Fansuri.







