LHOKSEUMAWE – Kapal Republik Indonesia (KRI) Silas Papare 386 berlabuh di Pelabuhan AAF Krueng Geukueh, Aceh Utara, sejak 17 sampai 18 Juni 2019.
Kapal perang itu dikomandani Letkol laut (P) M. Catur Soelistyono. Kedatangan KRI Silas Papare di wilayah tersebut dalam rangka patroli rutin di pulau-pulau perbatasan negara Indonesia di kawasan Samudera Hindia.
Komandan KRI Silas Papare 386, Letkol Laut M. Catur Soelityono, mengatakan kedatangan armada tempur ini patroli rutin untuk mengamankan laut Indonesia, sehingga perairan Lhokseumawe juga termasuk wilayah operasi tersebut. Sebelumnya, pihaknya juga sempat ke wilayah Simeulue, Nias dan mengisi bahan bakar di Padang, Sumatera Barat. Lalu kembali ke arah barat sampai memutar wilayah Sabang hingga ke Lhokseumawe (Pelabuhan Krueng Geukueh).
“Untuk kerawanan terutama yang kita jaga adalah hal-hal yang negatif atau dari pihak luar yang masuk ke wilayah Indonesia. Sebelumnya kita juga sempat menertibkan kapal angkut bahan bakar di wilayah pantai barat, dan setelah itu kita bawa ke pangkalan di Padang. Rencana kita akan melakukan patroli lagi di perairan Aceh sampai batas bahan bakar (KRI Silas Papare 386) ini habis, dan kita akan mengisi bahan bakarnya kembali di Belawan, Sumatera Utara,” kata Catur Soelistyono kepada portalsatu.com/, di Pelabuhan AAF Krueng Geukueh, Selasa, 18 Juni 2019, sore.
Catur Soelistyono menambahkan, direncanakan besok (Rabu) pihaknya kembali melakukan patroli, karena masih banyak sektor-sektor yang perlu disinggahi di seputaran perairan Aceh sampai berlabuh di Belawan. “Harapan ke depan semoga perairan di Aceh ini sebagaimana yang sudah kita lewati ini tetap aman, kemudian masyarakat yang bergiat tanpa waswas atau khawatir. Kemudian pihak-pihak asing atau hal negatifnya kecil kemungkinan masuk, kemungkinan ke depan akan diperkuat lagi operasi di wilayah perbatasan sekitar sini (Aceh),” ujarnya.
Mengenai titik kerawanan khususnya di Aceh, lanjut Catur Soelistyono, sebenarnya di laut itu bisa dikatakan semua titik rawan, tergantung bagaimana pengawasannya saja. Karena mereka (penjahat di laut) mengharapkan kelengahan dari patroli tersebut sehingga mereka bisa masuk ke wilayah Indonesia pada umumnya.
“Tentunya kita upayakan sekuat tenaga supaya hal ini tidak lengah. Prioritas kita pasti ada, tetapi prioritasnya itu kita fokus ke semuanya (wilayah) secara keseluruhan di Indonesia,” ujar Catur Soelistyono.[]



