“Kalian tidak senang dengan kami, ya, makanya selalu disorot?” tanya seorang teman.

“Jika kamu tidak menyukai atau tidak lagi menyayangi sesuatu, apakah kamu akan peduli padanya?” saya balik bertanya.

Sahabat!!!

Sebagian orang menganggap teguran atau kritik sebagai kebencian. Sebab bagi orang ini, intonasi lebih penting dari isi pesan. 

Kesenangan akan pujian atau menolak kritik adalah sikap salah. Sebab tidak ada kesempurnaan pada manusia. Kritik adalah koridor dimana kita terbatasi.

Terbatasi dari keterlanjuran. Kritik menghentikan atau mencegah kita salah. Bahwa kritik tidak selalu benar. Tapi hakikatnya kritik membuat kita lebih mawas. Bahkan terhadap tindakan kita yang sedang benar.

Banyak kegagalan dan kerugian. Salah satu penyebabnya kita takut nasihat atau kritik. Kita membangun resistensi. Selalu merasa benar. Baru setelah gagal kesadaran datang ketika sudah hancur.

Tanpa tendensi jelas pengkritik tidak mau buang energi. Karenanya kita perlu menghargai pengkritik. Sebab telah berpatisipasi menjaga kita. 

Jika Anda atasan, maka kritik dari tim Anda adalah terbaik. Tapi sedikit orang berani mengkritik atasan. Dan segelintir atasan rela dikritik timnya.

Semisal kenderaan bermotor. Kritik adalah shock breaker atau peredam kejut. Dia memang membuat kenderaan oleng kiri dan kanan. Tapi tanpa dia sesungguhnya tidak ada kenyamanan berkendara.[]