BerandaNewsKsatria Jepang di Sekolah Sukma Bangsa

Ksatria Jepang di Sekolah Sukma Bangsa

Populer

Oleh Marthunis Bukhari*

Sebagai generasi yang lahir di akhir era 80-an dan menjalani masa kanak-kanak di tahun 90-an, saya menikmati betul menyaksikan suguhan anime-anime Jepang ketika itu. Di antaranya, Doraeman, Shulato, Sailor Moon, Dragon Ball, Minky Momo, Ninja Hattori, Samurai X hingga Ksatria Baja Hitam.

Bahkan, untuk menonton sederet anime (animasi/kartun) tersebut diputar pada hari Minggu, harus rela bela-belain bangun pagi, berangkat ke rumah tetangga yang sudah memasang parabola di rumahnya dan tidak lupa wajib membawa uang 100 perak sebagai tiket masuknya. Tidak jarang kalau anak tuan rumahnya lagi bad mood, kami segerombolan anak-anak yang sedang asyik menonton disuruh pulang tanpa menunggu filmnya habis. Antara sedih dan kecewa, tapi ya nasib, yang tidak memiliki parabola di rumahnya ketika itu, pasrah!

Ksatria Baja Hitam yang diperankan Kotaro Minami menjadi salah satu tontonan favorit saya kala itu. Rasanya kalau melewatkan tontonan satu ini, sama halnya seperti sebagian generasi milenial saat ini yang menggilai Young Lex, si doi sudah di depan mata dan ingin meminta tandatangan, eh si doi dengan sombongnya malah melenggang begitu saja. “Sakitnya tuh di sini,” kata Cita-citata

Dalam konteks diplomatik, ibarat sepasang kekasih, hubungan Indonesia-Jepang sempat mengalami pasang surut. Fase penjajahan Jepang terhadap Indonesia tentu menjadi fase yang tidak ingin diingat oleh masyarakat negeri ini. Setelah penjajahan berakhir pada tahun 1945, perlahan tapi pasti hubungan diplomasi Jepang dan negara ini terus membaik.

Secara ekonomi, Jepang telah meletakkan pengaruhnya sejak tahun 1961. Hal ini dimulai dengan masuknya produsen motor asal negara sakura tersebut, Honda. Pada tahun tersebut, Jepang memasarkan sepeda motor Honda C50 dengan tenaga mesin 50 cc dan lansung menjadi primadona kendaraan bermotor di Indonesia kala itu. Bahkan, hingga saat ini produsen Honda masih memegang rekor sebagai “best selling motorcycles in Indonesia“.

Diperkirakan 90% pasar otomotif Indonesia dikuasai oleh merek dagang dari Jepang. Belum lagi ragam jenis alat elektronik hingga tontonan hiburan yang menghiasi layar kaca kita, betapa kartun-kartun Jepang masih menjadi candu bagi anak-anak di negeri ini. Tidak berhenti di situ, pengaruh Jepang di Indonesia terhitung cukup besar. Perusahaan-perusahaan Jepang yang bergerak di berbagai bidang, tidak kurang jumlahnya dari 1.750 di Indonesia. Tentu angka tersebut telah memberi kontribusi positif bagi pembangunan ekonomi di negeri ini.

Dalam minggu ini, kebetulan Sekolah Sukma Bangsa Pidie kedatangan seorang anak muda dari Osaka University, Jepang. Kosuke Kazumi namanya. Usianya yang baru menginjak 27 tahun sudah menjadi kandidat doktor di bidang Sociology of Education. Di Jepang, setidaknya dalam 1 juta penduduknya terdapat 6.438 jumlah doktor. Bandingkan dengan negara kita yang pada setiap 1 juta penduduknya hanya memiliki 143 doktor.

Selama tiga bulan ke depan, Kosuke San akan melakukan riset dan tinggal di sekolah. Semoga spirit Bushido ala Samurai yang dimilikinya sebagai orang Jepang dapat ia tularkan kepada seluruh warga sekolah. Jepang, sebagai sebuah negara dengan kompleksitas perpaduan unik antara melestarikan tradisi leluhur dan mencapai titik modernitas dalam bentuk kemajuan teknologi yang hampir di luar batas nalar manusia.

Moga semua bayangan tentang kecanggihan Jepang dalam berinovasi dapat melecut motivasi siswa sekolah ini untuk melakukan hal yang sama di masa depan. Kosuke San, Youkoso![]

*Marthunis Bukhari, M.A., Direktur Sekolah Yayasan Sukma Bangsa Pidie.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita terkait

Berita lainya