Kak Jah salah seorang dari sebagian kecil pedagang di Pasar Inpres Lhokseumawe yang tampak memakai masker. Masker kain hitam menutup hidung dan mulut wanita paruh baya ini. Dia menjual sayur-sayuran. “Lebih nyaman (memakai masker), karena sudah terbiasa. Saya tidak mau kena covid, berat,” ucap Kak Jah saat diajak berbincang tentang masker, di pasar pagi itu, Ahad, 29 Agustus 2021.

Pasar tradisional yang luas itu saban hari disesaki ramai orang. Kerumunan orang terlihat di banyak titik. Hiruk-pikuk pedang dan pembeli nyaris tak pernah sepi sejak pagi sampai jelang siang. Namun, pedagang dan pembeli di dalam pasar tersebut yang memakai masker sangat minim. Dari segelintir orang yang mengenakan masker, sebagian terkesan asal-asalan, hanya disangkut di dagu. Kak Jah salah satu dari jumlah sedikit orang yang memakai masker dengan benar.

“Awalnya, tahun lalu, saya juga memakai masker cuma menutup mulut, agak kesulitan bernapas kalau menutup hidung. Suatu hari ada seorang ibu yang membeli sayuran saya, menjelaskan masker harus dipakai menutup mulut dan hidung biar lebih aman. Ibu itu mengaku ada keluarganya kena covid karena tidak pakai masker. Makanya sampai sekarang saya pakai masker dengan benar, dan sudah terbiasa,” tutur Kak Jah.

Perempuan itu mengaku tidak pernah membaca koran. Dia juga tidak punya telepon pintar, tak ada akun media sosial. Namun, Kak Jah sering mendengar kabar dari tetangga dan orang sekampungnya tentang kasus Covid-19 yang terus meningkat di Aceh. “(Kabar) itu membuat saya jadi makin takut tertular corona,” ucapnya.

“Saya tidak tahu kenapa banyak orang tidak mau pakai masker. Malah ada yang sebelumnya pakai masker, sekarang tidak lagi, katanya tidak nyaman,” ujar Kak Jah.

Beberapa pedagang bahan dapur yang lapaknya dekat dengan Kak Jah, tidak memakai masker. Banyak orang yang datang ke lapak itu untuk berbelanja, juga tanpa masker. “Tidak nyaman,” kata seorang pembeli bahan dapur di tempat itu. Orang itu membisu ketika ditanya apakah tidak merasa khawatir tertular Covid-19.

Hasil monitoring protokol kesehatan (prokes) seminggu terakhir menunjukkan tingkat kepatuhan memakai masker menurun dibandingkan pekan sebelumnya. Sementara itu, selama periode yang sama, kasus konfirmasi Covid-19 juga menunjukkan tren yang meningkat di Aceh.

“Secara konseptual keduanya memang berkorelasi. Semakin patuh memakai masker kian rendah risiko tertular virus corona,” ujar Juru Bicara Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Aceh, Saifullah Abdulgani atau SAG, Jumat, 27 Agustus 2021.

Hasil monitoring kepatuhan prokes oleh Satgas Penanganan Covid-19 Nasional pekan lalu, periode 9-15 Agustus 2021, tingkat pemakaian masker di Aceh sekitar 88,53 persen. Sedangkan hasil monitoring sepekan terakhir, periode 16-22 Agustus 2021, menjadi 85,85 persen, turun 1,68 persen.

Sedangkan kepatuhan menjaga jarak dan menghindari kerumunan relatif sama dengan hasil monitoring sebelumnya. Tingkat kepatuhan menjaga jarak dan menghindari kerumunan sekitar 91,29 persen. Hasil monitoring pekan sebelumnya sekitar 91 persen. Tingkat kepatuhan menjaga jarak dan menghindari kerumunan masih lebih baik, kata SAG.

Seiring dengan turunnya disiplin memakai masker tersebut, menurut SAG, kasus konfirmasi Covid-19 juga menunjukkan tren meningkat. Selama periode 9-15 Agustus 2021 jumlah kasus Covid-19 bertambah 2.215 orang, sembuh sebanyak 2.736 orang, dan 97 orang meninggal dunia. Periode 16-22 Agustus 2021 kasus konfirmasi positif Covid-19 bertambah 2.644 orang, sembuh 1.445 orang, dan 136 orang meninggal dunia. Kasus konfirmasi baru meningkat sekitar 19,37 persen. Dalam lima hari terakhir, kasus baru bertambah 1.700 orang, sembuh 1.170 orang, dan meninggal sebanyak 86 orang.

Satgas Covid-19 Aceh berharap semua pihak ikut mengampanyekan prokes dan vaksinasi Covid-19 untuk menekan kasus harian dan kasus mingguan di Aceh. “Kita secara kolektif dan bersama-sama harus memakai masker, menjaga jarak, dan menghindari kerumunan agar terlindungi secara kolektif juga. Semua pihak harus mengajak pihak lainnya untuk mematuhi protokol kesehatan dan juga ikut melakukan vaksinasi Covid-19 sesuai kelompok sasarannya,” tutur SAG.

Selain disiplin memakai masker, menjaga jarak, dan menghindari kerumunan, masyarakat harus rajin mencuci tangan dengan sabun di bawah air yang mengalir, mengurangi mobilitas atau bepergian kecuali untuk keperluan sangat mendesak. Dengan membiasakan 5M itu secara maksimal dalam kehidupan sehari-hari diharapkan akan memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

Masker harus dipakai dengan baik dan benar yakni menutupi hidung dan mulut. Masker bukan untuk disangkut pada dagu atau leher. Bukan pula sekadar menutupi mulut dengan masker.

Direktur Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh, dr. Isra Firmansyah, juga mengimbau semua masyarakat jangan abai dengan prokes. Karena dengan menjalankan prokes secara benar, risiko penularan baik kepada diri kita sendiri maupun orang lain tidak akan terjadi.

“Artinya, secara otomatis virus tidak akan berkembang, penularan tidak akan terjadi, angka kesakitan, rawatan dan kematian akibat Covid-19 akan menurun dengan sendirinya. Sekali lagi harapan saya jangan abai dengan protokol kesehatan. Lindungi diri kita, keluarga dan orang lain dari wabah Covid-19,” ujar Isra, Kamis 26 Agustus 2021.

Isra berkewajiban mengingatkan hal itu kepada semua pihak lantaran dalam sebulan terakhir terjadi lonjakan kasus Covid-19. Dampaknya, angka kunjungan warga terkait kasus Covid-19 ke rumah sakit itu juga terus meningkat, baik kunjungan rawat jalan maupun rawat inap. “Angka rawat jalan dalam seminggu ini per harinya bisa mencapai 200 sampai 300 orang. Jumlah pasien yang dirawat inap juga meningkat. Paling maksimal kemarin mencapai 175 orang,” ungkapnya.

Meningkatnya kasus positif Covid-19 di Aceh dan banyaknya pasien corona yang ditangani RSUDZA membuat manajemen rumah sakit pelat merah ini memutuskan menggunakan ruang perawatan pasien talasemia untuk merawat pasien Covid-19. Sebaliknya para pasien talasemia dan onkologi akan dipindahkan ke gedung lain di rumah sakit itu.

Sementara itu, Aceh menerima bantuan mesin Polymerase Chain Reaction (PCR) dan masker dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Bantuan itu diserahkan Kepala BNPB Letjen TNI Ganip Warsito diterima Sekretaris Daerah Aceh Taqwallah di lobi Kantor Gubernur Aceh, Sabtu, 28 Agustus 2021.

Bantuan satu mesin PCR itu dikhususkan untuk Kabupaten Aceh Besar. Satu mesin PCR lainnya untuk Kodam Iskandar Muda serta 1,5 juta lembar masker kain untuk Kodam Iskandar Muda dan Polda Aceh. Sedangkan 500 ribu lembar masker medis dan 500 ribu masker kain untuk masyarakat Aceh yang diterima Sekda Taqwallah. Bantuan masker itu langsung disalurkan ke 23 kabupaten kota di mana prosesi penglepasannya dilakukan di lokasi tersebut. Pendistribusian dilakukan dengan menggunakan konvoi mobil dari masing-masing Badan Penanggulangan Bencana Kabupaten/Kota.

Letjen TNI Ganip Warsito menyebutkan Aceh merupakan daerah dengan kasus aktif Covid-19 yang tinggi. Angka kematian terkait Covid-19 di Aceh juga disebut terhitung tinggi. Sementara angka kesembuhan dikatakan ‘menuju angka yang bagus’. Selanjutnya tingkat testing dan tracing di Aceh juga dinilai masih rendah. Begitu juga dengan tingkat kedisiplinan penggunaan masker yang masih butuh terus ditingkatkan.

Padahal, kata Letjen Ganip, memakai masker dan melakukan vaksinasi adalah cara paling bagus untuk memproteksi diri dari kemungkinan tertular Covid-19. Untuk itu jenderal bintang tiga tersebut mengajak masyarakat di Aceh untuk disiplin menerapkan protokol kesehatan dengan tetap mengenakan masker dan melakukan vaksinasi.

“Hari ini kita di sini untuk membuat satu aksi mengingatkan dan mengedukasi masyarakat agar disiplin memakai masker. Maka kita luncurkan mobil masker,” ujar Letjen Ganip.

Ya, membiasakan memakai masker dengan baik dan benar seperti Kak Jah pedagang sayur-sayuran di Pasar Inpres Lhokseumawe. Kak Jah tetap kukuh dengan pendirianya itu di tengah terpuruknya tingkat kepatuhan memakai masker. Sebab, dia menyadari pentingnya mencegah Covid-19, bukan hanya untuk dirinya, tapi juga keluarga, dan orang lain.[](Irm)