Sepertinya Aceh dalam kutukan. Sejak damai bersemi, konflik berpindah tempat. Dari medan perang bedil ke medan politik. Dan yang membedakan Aceh pascaperang dan bencana alam, Aceh kaya anggaran. Mungkin karena itu pula, “kerusakan” Aceh pascaperang dan tsunami berubah pola. 

Sejak damai sudah tiga rezim berkuasa. Namun, perbaikan Aceh makin kacau saja. Di periode ketiga kepemimpinan dalam damai, tetiba musibah datang. Gubernur Irwandi ditangkap KPK. Kepemimpinan beralih ke Wakil Gubermur. Walaupun masih dalam status pelaksana tugas, toh beliau sepenuhnya berkuasa layaknya Gubermur.

Tadinya saya berharap keadaan politik Aceh membaik. Plt. Gubernur Nova Iriansyah adalah politikus matang. Walaupun banyak pihak yang mengatakan semua jabatannya lebih karena nasib baik. “Lebih banyak faktor kebetulannya”. Namun kesan saya dia lebih santun. Lebih tenang dan bukan tipikal tukang tabrak. Ini yamg membuat saya optimis. Di tangan Nova suhu politik Aceh akan menurun.

Sebab dua Gubermur sebelumnya terkesan “cow boy“. Irwandi yang terkenal “suka cari musuh”. Diduga suka menghina dan bombastik. Begitu juga Abu Doto yang diduga “ugal ugalan dan KKN minded“.

Sementara Nova yang berasal dari wilayah tengah Aceh, alam dan seninya kaya, maka saya berharap dia akan memimpin Aceh dengan seni. Tapi kini saya tak lagi percaya Aceh akan lebih baik.

“Khuen ureung tuha, meunye bak haba meungadong karot, meulainkan bak buet yang peubeuna”. Maknanya kira-kira benar tidaknya perkataan seseorang dilihat dari perbuatannya.

Dalam kasus Plt. Gubernur saya melihat hadih maja ini menjelaskan. Beliau dalam beberapa minggu ini banyak mengeluarkan pernyataan yang “lumayan hebat”. Pernyataan yang apabila benar terlaksana akan membuat Aceh segera hebat.

Akhir bulan lalu dalam sebuah acara di Jakarta beliau mengatakan, dalam seminggu ke depan Bank Aceh direformasi. Namun sudah melewati minggu ketiga kita tak mendengar kelanjutannya.

Saya sempat mengirim pesan ke dua Juru Bicara Pemerintah Aceh beberapa hari lalu. Jubir Wira tak membalas. Jubir Saifullah Abdul Gani hanya mengirim foto pesan grup WA. Isinya bekmakna perintah reformasi Bank Aceh diserahkan ke manajemen Bank Aceh. Bukan domainnya beliau sebelum direksi Bank Aceh melapor lebih lanjut.

Pernyataan kedua tentang sawit yang tidak merusak lingkungan. Bayangkan bila pernyataan ini benar. Aceh akan mendunia dengan teknologi sawit yang hebat. Sawit, berdasarkan berbagai hasil penelitian, sangat merusak lingkungan. Terutama deforestasi dan monokultur.

Terkait pernyataan ini kita tunggu beliau kembali dari Amerika. Mungkin saja disana beliau sedang mensosialisasi sawit ramah lingkungan versi Aceh Green. Bila ini terwujud maka siap siap Aceh dicatat dalam rekor dunia sebagai negeri sawit tanpa merusak lingkungan.

Tapi bila dua pernyataan di atas tak terwujud, kutukan bagi Aceh terus berlanjut. Aceh banyak uang tapi tetap miskin. Logika mana yang bisa menjelaskan? Hanya logika Aceh yang membenarkan. Wallahu alam.

*Penulis adalah putra Aceh yang berprofesi sebagai jurnalis. Opini ini pandangan pribadi penulis.