“Iya, dek, inilah kegiatan kami sejak pensiun dan pindah kemari,” ujar seorang kenalan. Dia dahulunya pegawai menengah di BUMN. 

Lho, pak, kenapa susah payah berjualan begini bersama ibu, kan tinggal nikmati pensiun,” tanya saya.

“Kami bangkrut,” jawabnya singkat sambil membungkus lontong.

Sahabat!!!

Saya menemukan beberapa orang yang begini. Pensiun dan gagal mengelola keuangan. Di hari tuanya kesusahan secara ekonomi. Padahal, di masa bekerja kehidupan berlimpah materi. Rumah besar dan semua kemewahan lain.

Namun, kehidupan mewah itu melenakan. Lupa berinvestasi atau menabung. Sehingga limpahan uang pensiun miliaran gagal menjadi modal kehidupan pascapensiun.

Jika bukan habis melanjutkan kemewahan maka karena investasi yang salah. Saya menemukan banyak di antara mereka tertipu rayuan bisnis. Atau memilih bisnis yang tidak dikuasainya.

Pensiun tak seharusnya menurunkan derajat kehidupan. Caranya belajar berinvestasi. Carilah investasi yang aman. Investasi tradisional terbaik dan teraman adalah sawah. Untuk investasi modern seperti saham. Atau portofolio lain.

Yang jelas hindari menyerahkan uang Anda pada perseorangan. Atau kongsi dagang yang Anda tidak memahami seluk beluknya.

Jangan terbuai rayuan indah. Dengan janji keuntungan besar dan mudah. Jika ada yang mengatakan untung besar dalam tempo singkat. Yakinlah orang itu sedang merayu untuk menipu Anda.[]