Oleh Taufik Sentana
Dalam tradisi tasawuf dan jalan suluk, sikap lapar dijadikan sebagai pendorong rasa sabar dan taqarrub. Bahkan dianggap bahwa lapar itu bagian dari cahaya.
Sikap lapar pada sesi ini bukanlah sekadar menahan lapar saja atau sekadar berpuasa dengan jeda buka di maghribnya. Disini kita mulai mengetahui bahwa lapar tidak mesti selalu mengarah pada anarki dan dorongan kriminal. Lapar sangat bisa menjadi medium untuk sampai pada ma'rifatullah.
Orang yang sudah menempuh manazil sikap lapar tentulah ia sudah terbiasa dengan amalan wajib dan sunnah serta sudah jauh dari yang diharamkan. Sehingga ia bahkan sudah mengurangi apa yang selazimnya masih wajar dirasakan orang lain.
Atsar mengenai hal ini sering diambil dari keadaan Rasul Muhammad SAW yang dalam tiga hari baru merasa “kenyang”. Beda dengan kita, dalam sehari kita biasa merasa kenyang sebanyak tiga kali atau mungkin lebih.
Maka disebutkan dalam Risalah Qusyairiyyah (pada kanal kajian ust. Abd. Somad Official, 2020), bahwa perihal menahan lapar dan menjauhkan sikap kenyang ini mengelompokkan manusia pada tiga tingkatan.
Pertama, mereka yang makan sehari sekali sekadarnya saja sesuai kadar nutrisi yang lazim. Tipe ini disebut “Shamadani”, menyandarkan diri pada ikatan taabbud pada Allah. Kedua, yaitu orang yang makan sebanyak dua kali sehari, disebut Rabbani. Sedangkan yang ketiga adalah tingkatan rendah atau awam, yaitu yang makannya tiga kali sehari, bahkan lebih.
Pernah dikisahkan seorang syeikh yang sudah terbiasa menahan lapar, terlintas di benaknya untuk menikmati sepotong roti dengan selai telur (halal dan lazim pada masa itu, sekitar 1000 tahun yang lalu). Hingga dalam perjalanannya ke satu kota,tiba tiba ia dipeluk seorang pencuri yang sedang dikejar warga, sehingga warga menyangka bahwa syeikh tersebut adalah teman pencuri juga. Akibatnya secara tak sengaja ia terkena lecutan cambuk dan rotan orang orang yang mengejar pencuri tadi sebanyak 80 kali pukulan.
Saat tersadar, barulah masyarakat merasa bersalah karena mereka mengenal syeikh tadi. Untuk itu mereka mengundangnya makan sebagai ungkapan maaf. Dan yang dihidangkan adalah roti dan selai terur!.
Lalu ia berkata pada nafsunya : wahai nafsu, nikmatilah roti selai ini setelah engkau terkena cambuk 80 kali.
Begitulah cara Allah mensucikan seorang hambaNya yang telah menempuh manzil suluk, hingga memperturutkan keinginan lezat yang diperbolehkan pun berdampak buruk bagi sang diri.
Karena keinginan itu telah melalaikan sang diri dari hanya mengingat Allah dan bersandar padaNya, dan dalam tahapan ini, sebab/asbab tidaklah memberikan bekas. Maka lapar dan kenyang memiliki dorongan yang berbeda dalam menempuh kecintaan Allah. Sehingga lapar bisa menjadi istimewa bagi orang yang berilmu.[]
*Peminat kajian sufistik.




