Inilah kisah penduduk Desa Latiung, Kecamatan Teupah Selatan, Kabupaten Simeulue. Puing-puing bangunan desa Latiung yang ditinggal warga masih bisa dilihat dengan jelas. Salah satunya papan nama Sekolah Negeri Latiung yang masih berdiri kokoh terbuat dari beton. Sementara bekas dan sisa bangunan sekolah berwarna hitam masih berdiri tegak terpanggang sinar matahari dan guyuran hujan, dan terlihat samar ditutupi tumbuhan liar.

Yang terlihat masih terawat dengan baik hanyalah lokasi pemakaman ditandai dengan kebersihan pada sejumlah kuburan dan batu nisan. Selain itu, mulai dibangun pelabuhan nelayan di pinggir laut, terpaut sekitar 100 meter dari ruas jalan utama penghubung antarkecamatan, dan berdirinya satu warung kopi.

“Masih teringat dengan jelas di kepala saya terjadinya peristiwa linon (gempa) di atas jam sebelas malam, Selasa, Desember 2004 lalu. Waktu itu umur saya baru 12 tahun, kelas 6 SD. Rumah saya rubuh total dan kami sempat keluar dari rumah, lalu ada informasi bahwa air laut surut. Saya lari sekuat tenaga menyeberangi sawah dan semak belukar, menjauh dari kampung saya,” kata Yoyon Tasoma, Kamis, 26 Desember 2019.

Pria yang kini berusia 27 tahun itu dengan wajah menunduk dan sedih mengingat kejadian pada masa itu, saat dia melarikan diri sejauh kurang lebih 4 kilometer dalam gelap gulita malam melintasi persawahan dan semak belukar mengikuti warga lain yang juga berhamburan lari dari rumahnya.

Dia mengaku merasa sedih setiap melihat bekas desanya. Ada keinginan untuk kembali dan menetap di sana, namun hal itu tidak dapat terwujud disebabkan warga dan saudaranya yang tidak mau kembali. Mereka lebih memilih tidak pindah dan tetap tinggal di lokasi titik akhir pelarian saat menghindar dari bencana linon dan smong (tsunami), yang kini disulap menjadi perkampungan dengan nama sama, Desa Latiung.

“Kejadian linon dan smong itu hanya beda hari saja dengan kejadian di daratan Aceh yang terjadi 26 Desember, sedangkan di daerah kita terjadi 28 Desember tahun yang sama,” ujar Yoyon.

Yoyon merasa sedih melihat kampung yang ditinggalkan itu. Namun, dia juga sudah merasa nyaman tinggal di perkampungan baru.

Perkampungan baru yang masih ditabalkan nama Desa Latiung itu dihuni 79 Kepala Keluarga (KK) atau 265 jiwa, telah memiliki fasilitas sekolah, kesehatan, serta fasilitas umum lainnya untuk kepentingan masyarakat di sana yang bermata pencaharian sebagai petani dan nelayan.

Sekcam Teupah Selatan, Darmilus, mengungkapkan seluruh desa di wilayah itu, 26 Desember 2019, melaksanakan zikir untuk mengenang tragedi bencana alam linon dan smong 2004 lalu, serta zikir terkait fenomena gerhana matahari cincin.

“Seluruh masyarakat kumpul di masjid dan meunasah yang ada di Teupah Selatan ini, melakukan zikir mengenang 15 tahun bencana linon dan smong serta zikir fenomena alam gerhana matahari cincin. Memang betul ada bekas perkampungan yang ditinggal warga pada tahun 2004 lalu hingga saat ini tidak terawat,” katanya. [Egar Shabara]