Karya: Taufik Sentana*
 

Lelaki itu percaya bahwa sekuntum bunga atau setaman bunga bunga mewakili keindahannya sendiri. Keindahannya melampaui tangan yang menjamahnya atau orang orang  yang lalai dari keindahannya. Bila bebunga itu kuncup, maka itulah isyarat kerendahan hati yang ditunjukkan Alam.

Matahari dan bunga bunga telah lama bersahabat, walau sedikitpun sang bunga takkan dapat menjangkau matahari. Keduanya saling memahami isyarat masing masing. Isyarat waktu, kembang-kuncup, mekar-layu dan rahasia malam yang membuat gigil.

Lelaki tadi belum sampai pengertiannya, apakah ia cukup menikmati dan memahami keindahan bunga: dari tanah, akar, kelopak hingga ujung benang sarinya. 

Atau bahkan mungkin bunga itu adalah dirinya, bunga yang mana? : Apakah ia bunga asing yang sepi-sendiri dalam taman pencarian? Atau bunga zaman yang aromanya masih sangat rahasia.

Lelaki itu  membawa bunga ke dalam pikirannya, menjadikannya mekar selalu yang akan dipetik oleh pecinta kearifan.[]

*Penyuka prosa, banyak menulis esai sosial dan budaya.