Karya: Taufik Sentana*

Tiada yang tak butuh matahari, bahkan cacing tanah sekalipun. Dari matahari rembulan dapat memeluk malam.

Kini lelaki itu melihat dirinya telah terbit dan telah melampaui waktu terbitnya. Banyak peristiwa peristiwa kecil dan besar yang telah ia lewatkan. Sebagian ia genggam, sebagian lagi mungkin hilang dan menjadi serpihan zaman. 

Lelaki tadi berharap, semua peristiwa baik yang pernah disertainya menjadi atap  kelana Abadi di tanah seberang.

Saat matahari meninggi dan pasti terbenam, lelaki itu selalu melihat dirinya dan dunia berpijaknya, bahwa semua terikat dalam sistem semesta yang digamit Penciptanya sejak semula. Apapun yang di bawah matahari akan menjadi kisah yang akan dibacakan kemudian, dan setiap orang dapat  menikmati sinarnya atau mengabaikannya sama sekali.

Pada malam waktu, lelaki yang kusebut tadi sibuk mengeja perjalanannya. Berbisik dengan angin malam tentang harapan dan ketakutan yang hitam. Ia selalu ingin kelopak pagi menjadi miliknya dan duduk bersama matahari.

-dalam catatan “Lelaki yang Selalu Cemburu pada Waktu”, 2020.