Karya: Taufik Sentana*

Jatuh cinta seakan menjadi pecahan hujan di akhir kemarau, itulah yang dirasakan lelaki itu. 

Walau sebelumnya ia telah mengenal maksud mencintai, rasa dan gairahnya. Tapi ini terkait hubungan antarjiwa.

 Kini, hasrat dan tangkai cintanya mesti tunduk pada pengertian cinta
yang selaras dengan fitrah insani.

Tarian warna cinta menggelantung di pelupuk mata dan ruang hatinya. Segala batasan normatif menjadi hiasan yang indah.

Lelaki itu sempat menulis : 
kita telah bersanding di angkasa. Sebelum akhirnya kita bertatap muka. Waktu telah membuka tabirnya.

Beberapa catatan bijak menyebut,
inilah fase cinta platonik, cinta dalam angan yang membentuk realitasnya, perlahan, dalam pertimbangan, kedewasaan dan keilahian.[]

 *dalam novelet “Lelaki yang Cemburu pada Waktu”.