Dia menyebutkan, dalam kegiatan tersebut para santriwati dimintakan untuk membawa “saboh kai” beras sebagai bahan untuk pembuatan apam.

“Beras yang telah terkumpul ini, selanjutnya dibawa ke penggilingan. Tanpa dijemur lagi, tepung langsung dibuat menjadi adonan dan dibakar secara tradisional dengan menggunakan öen ‘ue thoe,” kata  Tgk Zaruk Taini yang akrab disapa Abon Lamna oleh warga setempat.

Dia menyebutkan, selain tradisi tet apam, Dayah Istiqamatuddin Lamna juga ikut melestarikan berbagai tradisi lain dalam keseharian masyarakat Aceh seperti menyambut hari rabu abeh tiap bulan Safar.

“Tradisi yang telah ada pada masyarakat Aceh semestinya kita rawat. Bagaimanapun tradisi dan adat Aceh pastinya tidak menyalahi hukum syariat. Sebagaimana sering kita dengar hadih maja menyebutkan Adat ngen hukom lagee zat ngen sifeut. Ini menunjukkan dua sisi yang sudah menyatu tanpa adanya perselisihan bahkan saling menguatkan,” tutupnya.[]tla

Penulis: Muhajir Ibnu Marzuki, Panteraja, Aceh, Sumatra.