__”Dari sikap ini seorang muslim bisa melompat dan melampaui kuantum suksesnya berdasarkan potensinya yang paling relevan. Atau ia bisa menilik kembali “modal modal” di luar dirinya yang bisa menariknya ke tangga sukses”__

Oleh Taufik Sentana*

Awal tulisan ini terinspirasi dari petikan tips Syeikh Aid Alqarni penulis Buku laris La Tahzan (dalam Tips portalsatu.com/), Ia menyebutkan, bahwa  dasar sukses yang paling khas dari seorang muslim adalah keyakinannya terhadap ajaran Islam dengan landasan Alquran dan Hadis. Inilah ramuan sukses dan bahagianya,  yaitu memaknai hakikat tujuan hidup dengan ajaran yang sesuai tuntunan pada Rasulullah Muhammad SAW. Lalu menjadikannnya kontekstual dengan kehidupan sehari hari.

Artinya, menjadi sebagai muslim saja sudah menjadi “jaminan” sukses dengan beragam persepsi tentang sukses itu sendiri. Baik sukses bendawi, duniawi dan ukhrawi.

Adapun langkah, prosedur dan cara sukses lainnya, bisa saja tidak berseberangan dengan prinsip umum. Seperti, disiplin, lapang dada, memahami potensi diri dst.

Hanya saja, yang paling signifikan dalam upaya melaju dan membuat lompatan sukses adalah bayang bayang individu akan masa lalu, dan gambar dirinya yang negatif. Artinya, daya dorong sukses si individu akan lemah manakala masih belum menutup habis masa lalunya dengan penuh insyaf dan ikhlas.

Begitulah, masa lalu telah usai. Dan seorang muslim tentu tahu bagaimana menyikapinya. Sehingga masa lalu itu tidak membelenggunya dan tidak merebut kebahagiaannya pada  hari ini atau tidak  merobek hari esoknya  yang masih suci.

Dari sikap ini seorang muslim bisa melompat dan melampaui kuantum suksesnya berdasarkan potensinya yang paling relevan. Atau ia bisa menilik kembali “modal modal” di luar dirinya yang bisa menariknya ke tangga sukses selanjutnya. 

Modal modal itu berupa lingkungan yang baik, sahabat, relasi,  buku buku dan “komponen” lainnya yang membuatnya lebih dekat pada sukses yang dimaksud, semisal karir, finansial, keluarga, kontribusi sosial dan pengembangan dirinya secara utuh.

Maka sudah tentu ukuran “lompatan” itu tidak sama antara satu individu dengan individu lainnya. Semisal Alfarabi yang membaca ratusan kali karya Socretes, hingga ia disebut sebagai “guru kedua para filsuf”. Atau Ibnu Sina (Avicenna) yang mengawali karir “profesionalnya”,di usia tigabelas tahun dan sebagai dokter di usia 16 tahun.

Disini kita mengerti satu hal, waktu dapat   menjadi variabel “lompatan sukses”  seseorang, dan bagaimana ia mengakhiri waktu itu berdasarkan keyakinan, prinsip, kegigihan dan harapan harapannya.[]

*Praktisi pendidikan Islam.