LHOKSEUMAWE – Puluhan mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Malikussaleh berunjuk rasa di depan Kantor Wali Kota Lhokseumawe, Kamis, 4 Mei 2017. Sekda Lhokseumawe Bukhari diusir saat hendak menemui pengunjuk rasa karena dinilai tidak memiliki kapasitas terkait kondisi defisit anggaran pemerintah kota saat ini.

“Bapak (Sekda) tidak punya kapasitas untuk menjelaskan persoalan defisit (anggaran) kota. Kami butuh penjelasan dari Wali Kota Suaidi Yahya, silakan Bapak pergi,” kata mahasiswa kepada Bukhari dan sejumlah Asisten Setda Lhokseumawe yang mencoba menenangkan pengunjuk rasa di pintu depan kantor wali kota.

Sekda Bukhari dan para Asisten langsung masuk kembali ke kantor wali kota. Pengunjuk rasa kemudian mengancam akan merengsek masuk ke kantor itu apabila dalam 15 menit Suaidi tidak menemui mereka.

Sebelum Sekda Bukhari keluar dari kantor untuk menemui para mahasiswa, sempat terjadi tolak-menolak antara polisi dengan pendemo yang bersikeras ingin masuk ke kantor wali kota.

Sampai berita ini dikirim ke redaksi, pengunjuk rasa masih berada di kantor wali kota menunggu Suaidi menemui mereka. Salah satu sumber menyebutkan, Wali Kota Suaidi belum masuk kantor hari ini.

Dalam pernyataan sikapnya, mahasiswa meminta Pemko Lhokseumawe menstabilkan kembali APBK yang sudah kolaps, transparansi dan tertib administrasi pemerintahan, melakukan reformasi birokrasi, penertiban jam kerja PNS dan memangkas pegawai non-PNS, melanjutkan pembangunan infrastruktur yang mangkrak, menertibkan parkir dan kejelasan retribusi parkir sesuai dengan qanun, kelanjutan dana sertifikasi guru, membuka lapangan kerja, memberantas tempat maksiat di Lhokseumawe dan mengevaluasi Dinas Syariat Islam, dan tuntutan lainnya.[]