PEUREULAK – Mahasiswa IAIN Zawiyah Cot Kala Langsa yang sedang menjalani Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM), mengadakan pengajian mingguan pada setiap hari Rabu. Pengajian ini diikuti oleh kaum ibu-ibu masyarakat di sekitar Gampong Pulo Blang, Kecamatan Ranto Peureulak, Kabupatan Aceh Timur, Rabu 30 Maret 2016.

Pengajian tersebut dipimpin Teungku Sulaiman Muda, mahasiswa KPM dari kampus IAIN Zawiyah Cot Kala Langsa itu berasal dari Fakultas Tarbiyah, jurusan bahasa Arab yang ditempatkan di Pulo Blang itu.

Sulaiman mahasiswa IAIN Langsa ini pada kesempatan tersebut. Ia mengupas tentang makna tepung tawar (Peusijuk) dan Tafa'ul menurut hukum Islam.

“Tepung tawar lebih dikenal dengan kata-kata peusijuk, menurut makna yang diistilahkan oleh masyarakat Aceh ialah memercikkan air kepada seseorang, tempat tinggal atau kendaraan dengan menggunakan seikat dedaunan seperti daun seunijuk,rumput sambo,”katanya.

Dan selanjutnya, menaburkan beras padi ke atas yang di tepung tawari dengan mendoakan, mengharapkan semoga Allah memberikan rahmat,kebaikan untuk yang di tepung tawari, sebagaimana Allah telah memberikan sifat-sifat yang baik pada air, rumput sambo, daun seunijuk dan beras padi.

Sementara pengertian Tafa'ul, kata tafa'ul berasal dari bahasa Arab yang diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu dengan makna simpena. Tafa'ul menurut makna lughawi (bahasa) adalah mengharabkan nasib baik. Sedangkan tafa'ul menurut makna istilah adalah mengharabkan semoga Allah memberikan rahmat, kebaikan untuk orang yang didoakan, baik dalam bentuk tafa'ul bilqauli (bertafa'ul dengan perkataan) atau tafa'ul bilfi'li (bertafaul dengan perbuatan tertentu).

“Bertafa'ul dengan air, sifat yang ada pada air adalah sejuk, dingin, maka kita mengharapkan semoga Allah memberikan kesejukan, kedamaian dan ketentraman untuk orang yang ditepung tawari sebagaimana sejuknya air,” jelas Sulaiman Muda.

Lanjut dia, begitu pula bertafa'ul dengan rumput sambo dan beras padi memiliki makna. Bertafa'ul dengan beras padi sifat yang ada pada beras padi adalah berkembang, bertambah banyak setelah mengalami proses. Maka kita mengharabkan semoga Allah memberikan untuk orang yang ditepung tawari bertambah-tambah rizkinya, sebagaimana bertambah dan berkembangnya beras padi.

“Misalnya benih padi 2 bambu setelah ditanam tumbuh lalu berbuah, lalu dipanen. Maka hasilya mencapai 2 gunca (+_ 200 kg). Begitu pula beras setelah dimasak berkembang, bertambah banyak menjadi dua kali lipat,” kata Sulaiman pada ibu-ibu saat mendegar pengajiannya.

Adapun hubungan antara peusijuk dengan tafa'ul ialah peusijuk merupakan sebagian dari tafa'ul bilfi'li karena peusijuk itu masuk ke dalam tafa'ul dengan air. Maka kata dia, hubungan antara peusijuk dengan tafa'ul menurut kaidah ilmu mantiq adalah “umum khusus mutlak”, artinya peusijuk itu merupakan sebagian dari tafa'ul dan setiap tafa'ul itu tidak terhasar (tersimpan,terbatas) cuma pada pesijuk saja.

“Ada juga yang bertafa'ul dengan buah kurma pada ketika mentahnikkan (peucicap aneuk mit/bayi), bertafa'ul dengan kain ridak ketika mengharabkan kepada Allah di turunkan hujan,” kata mahasiswa IAIN langsa ini.

Dia kembali menjelaskan ada sebagian orang mengatakan bahwa acara peusijuk yang telah mentradisi di Aceh itu adalah budaya agama Hindu, sebab kata dia bukan ajaran dari agama islam. Nah dalam masalah ini perlu kita tegaskan peusijuk yang telah mentradisi di Aceh seperti peusijuk pengantin baru, peusijuk orang baru sembuh dari sakit, tempat tinggal, kendaraan, itu semua ada dasar hukumnya dan bukan di adopsi dari budaya agama Hindu.

“Walaupun agama Hindu duluan masuk ke Aceh, apabila terlihat prosesi acara peusijuk di Aceh serupa dengan peusijuk yang dilakukan oleh penganut agama Hindu, jangan gegabah, jangan cepat sekali memvonis bahwa peusijuk itu diadopsi dari budaya agama Hindu, bukan kita meniru mereka, boleh jadi orang Hindulah yang meniru ajaran Islam untuk memperkaya ajaran mereka,” katanya.

Walaupun serupa, tapi tidak sama pada hakikat dan i'tiqat tentang masalah peusijuk yang ada dalam ajaran agama Islam dengan ajaran yang ada di dalam agama Hindu.

“Masalah peusijuek ada dasar hukum dan syari'at tersendiri yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Islam adalah agama samawi yang paling sempurna dalam agama yang sempurna sudah tentu ada ajaran tentang masalah peusijuk yang bahasa Arabnya dikatakan “tabridul mar'i minattafaa uli bil maa'i” (peusijuk untuk seseorang itu adalah sebagian daripada bertafa'ul dengan air,” kata Tengku Sulaiman ini.[](tyb)