Oleh: Maimun Ramli* 

Pembangun balai pengajian selain wujud simpati dari mahasiswa KKN juga sebagai bentuk pelatihan metode konstruksi bangunan bambu plaster sebagai alternatif bangunan murah. Bangunan ini dikonsepkan oleh Amril Bakhtiar dan Putri, keduanya merupakan mahasiswa Jurusan Teknik Arsitek Unimal.

Peletakan batu pertama pembangunan balai pengajian Miftahul Ulum sumbangan dan karya mahasiswa Arsitektur Unimal dipeusijuek (diresmikan), Gampong Alue Bili, Nisam, Aceh Utara, 1 Maret 2017 lalu.

Amril Bakhtiar saat ini sedang mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Gampong Alue Bili menyumbang pembangunan balai pengajian, balai pengajian Miftahul Ulum dibangun berdasarkan desain arsitektur dari beberapa karyanya selama KKN.

Dalam peletakan batu pertama yang dihadiri oleh warga setempat juga turut hadir Pj Geuchik, mantan geuchik, mantan Imum Gampong dan aparatur gampong lainnya.

Teungku Syafruddin selaku pimpinan balai melakukan peletakan batu pertama, kemudian diikuti oleh Pj Geuchik Alue Bili Yusnainiah, S.Sos.

Yusnainiah menyampaikan rasa terima kasihnya kepada mahasiswa KKN kelompok 17 Alue Bili yang telah bersedia membantu pembangunan balai pengajian yang baru.

Kondisi balai lama sangat memperihatinkan dan sudah tidak layak huni. “Saya mewakili seluruh masyarakat gampong mengucapkan banyak terima kasih kepada adik-adik mahasiswa di sini,” kata Yusnainiah.

“Kita semua di sini berharap dengan adanya balai pengajian baru ini mampu meningkatkan semangat belajar anak-anak di sini, niatan kami membantu pendidikan, iya awalnya kita merasa simpati dengan kondisi balai yang ada, benar-benar sudah tidak layak ditempati, apalagi untuk kegiatan belajar mengajar, bagaimana mungkin mereka bisa belajar dengan tenang sedangkan kondisi balai lama kapan saja bisa berpotensi ambruk,“ ujar Amril Bakhtiar.

Mengenai sumber bantuan, Amril mengatakan, untuk kegiatan dan bahan material toko disponsori oleh Yayasan Ramania Fortuna dan Yayasan Gerbang Anak Sejahtera, dan untuk bahan-bahan dari alam seperti bambu disediakan oleh warga.

Mengenai konsep desain pembangunan kita sepakati bersama saat musyawarah kelompok 17, kita berdayakan bahan dari bambu, pemilihan bambu karena potensi bambu yang melimpah di Desa Alue Bili dan di Aceh pada umumnya.

“Konsepnya bangunan minimalis dari bambu, kita bangun desainya senyaman mungkin untuk adik-adik kita,” tambah Amril.[]

*Humas Dpm Unimal