Oleh: Jabal Sab

Majelis An-Nur asuhan Habib Abdul Haris bin Shaleh Al-Aydrus bersama dengan BKM Mesjid Tgk. Dianjong Peulanggahan akan mengadakan acara Ziarah Kubra Ulama dan Aulia, Senin, 8 Mei 2017 yang bertempat di Makam Teungku Dianjong, Mesjid Teungku Dianjong, Peulanggahan, Banda Aceh.

Acara yang mengundang seluruh kaum muslimin dan muslimat ini diselenggarakan bertepatan pada bulan Sya’ban tiap tahunnya. Pada tahun-tahun sebelumnya, acara ini sudah 4 kali diadakan setiap tahun. Bulan Sya’ban dipilih karena pada bulan tersebut disunnahkan untuk berziarah, khususnya ke makam orang-orang shaleh.

Pada acara ini kali ini akan diisi dengan ceramah oleh Habib Ali Karrar bin Muhammad Al-Haddad, seorang da’i  muda asal Palembang, Sumatera Selatan.

Baca: Sejarah Mesjid Teungku Di Anjong dan Cikal Bakal Julukan Serambi Mekkah

Acara dimulai dengan pembacaan ratib dan tahlil, pembacaan manaqib (biografi singkat) Teungku Dianjong, ceramah dan diakhiri dengan kenduri atau makan bersama.

Teungku Dianjong

Teungku Dianjong bernama Al-Habib Abubakar bin Husein Bilfaqih. Beliau merupakan ulama dan waliyullah yang berasal dari Hadramaut, Yaman. Nasabnya bersambung sampai kepada Rasulullah melalui jalur keluarga Bani ‘Alawi yang merupakan garis keturunan dari Sayyidina Husein.

Beliau hidup di Aceh pada masa pemerintahan Sultan Alauddin Mahmud Syah, 1760-1781 M. Beliau digelar sebagai Teungku Dianjong yang berarti disanjung atau dimuliakan. Dalam riwayat yang lain disebutkan pula bahwa beliau banyak menghabiskan waktunya dengan beribadah di anjungan masjid.

Dikenal sebagai seorang ualama tasawuf, Teungku Dianjong juga berperan sebagai ulama fiqih dengan membimbing manasik haji bagi para calon jamaah haji, baik yang berasal dari Aceh maupun dari wilayah lain di Nusantara.yang berangkat menunaikan ibadah haji melalui Aceh.

Pada bulan Maret 2009, Habib Kadzim bin Ja’far As-Seggaf yang berkunjung ke Aceh mengisahkan bahwa Teungku Dianjong merupakan ulama yang dikenal dengan kedalaman ilmu, akhlak mulia dan semangat dakwah yang kuat dalam menyebarkan Islam dan syahadat di muka bumi, dimana kemudian Allah SWT. Menghantarkan beliau sampai ke Aceh atau Asyi, sebutan orang Yaman untuk Aceh.[]

(Panitia bidang Publikasi dan Dokumentasi)