PERKUMPULAN Majelis Seniman Aceh (MaSA) resmi meluncurkan program antar bangsa bertajuk “Mimbar Penyair Nusantara”, di Banda Aceh, Sabtu, 13 September 2025. Program ini merupakan sebuah wadah kreatif yang mempertemukan para penyair lintas daerah dan negara serumpun dalam ruang dialog budaya.
Rencana ini hadir sebagai respons terhadap kebutuhan memperkuat jejaring kesenian dan sastra, sekaligus meneguhkan peran Aceh sebagai salah satu pusat kebudayaan di kawasan Nusantara dan Asia Tenggara.
Mimbar Penyair Nusantara diinisiasi oleh Thayeb Loh Angen, seorang penyair asal Sumatra. Menurutnya, program ini akan menjadi sarana silaturahmi, pertukaran karya, serta kolaborasi lintas batas melalui pembacaan puisi dan syair, diskusi, serta forum kreatif.
Ketua Majelis Seniman Aceh, Chairiyan Ramli, dalam sambutannya menegaskan bahwa peluncuran program ini bukan hanya sekadar kegiatan sastra, melainkan juga bagian dari upaya diplomasi budaya.
“Puisi adalah bahasa hati yang mampu menembus batas politik dan geografis. Lewat Mimbar Penyair Nusantara, kita ingin meneguhkan persaudaraan, memperkuat jati diri bangsa, serta menghadirkan wajah Aceh sebagai ruang dialog kebudayaan dunia,” kata Chairiyan.
Peluncuran Mimbar Penyair Nusantara turut dihadiri seniman lintas bidang di Aceh, di antaranya: musisi pemilik Sekolah Musik, Moritza Thaher, penyair sekaligus aktris panggung, Mahdalena, penyanyi reggae, Made in Made, penulis, Tabrani Yunis, pemusik dengan lagu viral “Poh Bandet,” Maimunzir, pegiat budaya dari The Krak Aceh, Ayi Sarjev, serta tokoh perempuan yang konsisten memperjuangkan hak perempuan dan mendukung kreativitas seniman Aceh, Nurul Akmal, pegiat bahasa Aceh, Iqbal Hafidh, pegiat literasi, Cut Rizka Safrianti, Siti Hajar, Elfira Syuhada, Syukri Isa Bluka Teubai, pegiat budaya Ikhwanul Fitri, dan seniman lainnya.
Selain itu, acara juga dihadiri oleh seniman-seniman muda serta masyarakat yang peduli terhadap pelestarian seni dan budaya Aceh.
Rangkaian peluncuran didahului pembukaan oleh presenter berpengalaman, Mutia. Dilanjutkan dengan sesi berbagi pengalaman perjalanan para penyair Aceh—Wina SW1, Siti Rahmah, Zahraini Zainal, Mahdalena (Dekna), dan Thayeb Loh Angen—ke Malaka dalam kegiatan Perhimpunan Penulis Sastera Wanita Se-Nusantara 2025 pada 2–3 Agustus 2025. Penyampaian kisah perjalanan tersebut diwakili oleh Wina SW selaku pimpinan rombongan.
Pada edisi perdananya, Mimbar Penyair Nusantara, direncanakan akan melibatkan penyair dari berbagai provinsi di Indonesia serta sejumlah negara sahabat di kawasan Asia Tenggara. Selain pembacaan karya, kegiatan ini juga mencakup lokakarya penulisan puisi, diskusi kritis mengenai perkembangan sastra kontemporer, serta rencana penerbitan antologi bersama.
Majelis Seniman Aceh berharap Mimbar Penyair Nusantara dapat menjadi agenda tahunan yang melahirkan karya kolaboratif dan menginspirasi generasi muda untuk menumbuhkan kecintaan terhadap sastra dan kebudayaan.
Pada kesempatan tersebut dibagikan buku kumpulan puisi para penyair Aceh dan Melaka Malaysia, ”Ingatan-Ingatan Kecil Terhadap Aceh” kepada para penulis.[]
Laporan: Zahraini Zainal.




