BANDA ACEH – Banyaknya politisi yang “pisah ranjang” menjelang Pemilihan Umum Kepala Daerah 2017 di Aceh dinilai sebagai hal yang lumrah terjadi di negara demokratis seperti Indonesia. Namun kondisi ini diharapkan tidak merugikan rakyat Aceh.
Demikian disampaikan oleh akademisi UIN Ar Raniry Banda Aceh, Eka Januar, kepada portalsatu.com, Kamis, 24 Maret 2016.
“Dalam negara demokrasi, sah-sah saja. Akan tetapi perpisahan tersebut jangan sampai merugikan rakyat. Artinya, meskipun hari ini mereka sudah berencana menjadi orang nomor satu di Aceh, mereka harus tetap memainkan cara-cara yang santun,” kata Eka Januar.
Di samping itu, Eka Januar mengharapkan siapa pun yang akan bersaing di Pemilukada 2017, mampu memberikan contoh positif untuk rakyat Aceh. Salah satunya dengan cara memberikan pembelajaran-pembelajaran politik yang baik.
“Politik-politik yang mereka (calon-calon gubernur) ajarkan kepada rakyat itu haruslah politik-politik yang mencerdaskan rakyat. Bukan hal-hal yang justru membuat Aceh ini kembali ke pada masa-masa yang tidak baik, seperti masa-masa dulu sebelum Aceh damai,” kata Eka.
Dosen Ilmu Politik di UIN Ar-Raniry Banda Aceh ini juga berharap kepada dua calon yang telah muncul sekarang ini, yaitu Zaini Abdullah dan Muzakkir Manaf atau Mualem selaku pemangku tanggung jawab Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh aktif, tidak melupakan tugas-tugas yang harus mereka selesaikan untuk saat ini. Pasalnya masa jabatan keduanya belum berakhir.
“Saya rasa mereka harus menyelesaikan dulu tugas-tugas yang sebagaimana telah diberikan oleh rakyat,” katanya.
Dia juga berharap kepada seluruh elemen agar memberikan pembelajaran-pembelajaran yang positif kepada rakyat, serta politik-politik yang dapat mencerdaskan bangsa.
“Kita berharap Pemilukada di Aceh ini dapat berjalan secara aman dan tertib. Politik-politik yang ditampilkan oleh elit-elit kita itu harus santun, politik yang cerdas, bukan politik yang mengadu domba,” katanya.
Dia mengatakan semua warga Aceh memiliki hak untuk maju dalam Pemilukada, karena Indonesia adalah negara demokrasi. Akan tetapi dia menekankan agar tidak adanya politik-politik yang saling menjelek-jelekkan.
“Sekarang rakyat sudah cerdas, rakyat tidak bisa dibohongi lagi. Jadi biarkan rakyat yang menilai karena sebenarnya kemenangan yang abadi itu adalah kemenangan yang diraih dengan cara-cara yang sehat,” kata Eka.[](bna)
Laporan: Rizki Mauliady




