Dalam bulan Syakban terdapat satu malam yang sangat istimewa pada pertengahan bulan tersebut yang dikenal dengan malam Nisfu Syakban. Dan juga dapat dikategorikan sebagai salah satu malam yang baik untuk beribadah dan berdoa dikarenakan keumuman dalil di mana setiap malam ada satu saat yang mustajabah doa.

Dalam hal ini Rasulullah SAW bersabda: Dari Jabir, beliau berkata : “Saya mendengar Rasulullah SAW berkata bahwa dalam setiap malam terdapat satu waktu yang tidak ada hamba muslim berbetulan dengannya di mana ia meminta kebaikan kepada Allah SWT melainkan Allah SWT mengabulkan permintaannya, dan hal tersebut pada setiap malam.” (HR. Imam Muslim)

Selain itu, banyak juga dalil-dalil khusus yang menunjukkan kelebihan malam Nisfu Syakban walaupun sebagian hadits tersebut dha’if. Namun sebagiannya juga dianggap shahih oleh Imam Ibnu Hibban dan sebagian lainnya dikuatkan dengan adanya periwayatan pada thariq-thariq yang lain yang berfungsi sebagai muttabi’ dan syawahid, sehingga beberapa hadits tersebut naik derajatnya menjadi hasan. Begitupula, hadits dha’if boleh diamalkan untuk fadhail-a’mal dengan catatan tidak terlalu dha’if.

Bahkan Imam al-Ramli mengatakan bahwa Imam al-Nawawi dalam beberapa karangan beliau menceritakan tentang adanya ijma’ ulama tentang kebolehan beramal dengan hadits dha’if pada permasalahan fadhail-a’mal (keutamaan beramal). Selanjutnya, Imam Husain Muhammad ‘Ali Makhlul al-‘Adawy mengatakan bahwa hadits-hadits tentang kelebihan malam Nisfu Syakban, serta kelebihan menghidupkan malam tersebut merupakan hadits yang boleh diamalkan pada fadhail-a’mal.

Di antara dalil yang menunjukkan dalam hadist Nabi SAW tentang kemuliaan malam Nisfu, antara lain: hadits riwayat Imam al-Thabrani dan Imam Ibnu Hibban : “Allah SWT memandang sekalian makhluk-Nya pada malam Nisfu Syakban dan Allah SWT mengampuni sekalian makhluk-Nya kecuali yang musyrik dan yang memiliki dendam”.

Kemudian dalam hadist lain yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah berbunyi: “Apabila tiba malam Nisfu Syakban maka shalatlah pada malam harinya dan berpuasalah pada siang harinya, karena (rahmat) Allah SWT akan turun ke langit dunia pada saat tersebut sejak terbenam matahari dan Allah SWT berfirman : “Adakah ada orang yang meminta ampun, maka akan Aku ampunkan, adakah yang meminta rezeki, maka akan Kuberikan rezeki untuknya, adakah orang yang terkena musibah maka akan Aku lindungi, adakah sedemikian, adakah sedemikian, hingga terbit fajar.”

Bagaimana dan apa yang pernah dikerjakan oleh baginda Rasulullah SAW, terekam dalam sebuah hadits yang diriwayatkan ‘Aisyah: “Berkatalah ‘Aisyah: ”Saya kehilangan Rasulullah SAW, tiba-tiba beliau berada di Baqi’ sambil mengangkat kepala ke langit”. Beliau berkata: “Apakah engkau takut engkau dizalimi oleh Allah dan Rasul-Nya?” Saya menjawab: “Ya Rasulullah, saya menyangka engkau mendatangi sebagian istri engkau”. Beliau berkata : “Sesungguhnya Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi turun pada malam Nisfu Syakban ke langit dunia, maka Allah SWT mengampunkannya lebih banyak dari bulu domba Bani Kalab”. (HR. Imam Ahmad)

Dalam kesempatan yang lain Aisyah bersama baginda Nabi pada malam Nisfu Syakban terjadi sebuah dialog kecil sebagaiman disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi : “Rasululah berkata: ”Adakah kamu ketahui kejadian pada malam ini?” ‘Aisyah menjawab: ”Apa yang terjadi pada malam ini, ya Rasulullah?” Beliau menjawab: ”Pada malam ini dituliskan semua anak yang akan lahir pada tahun ini dari keturunan Adam, pada malam ini dituliskan semua orang yang akan mati pada tahun ini, pada malam ini diangkat amalan manusia dan pada malam ini diturunkan rezeki mereka…”

Memperkuat argumen di atas, selanjutnya, para ulama juga berkomentar tentang kelebihan malam Nisfu Syakban, di antaranya adalah riwayat yang menceritakan bahwa ‘Umar bin Abdul Aziz mengirim surat kepada pegawai beliau di Bashrah: “Lazimkanlah empat malam dalam setahun karena sesungguhnya Allah memenuhi padanya dengan rahmat-Nya, yaitu awal malam dari Rajab, malam Nisfu Syakban, malam ‘Idul-fithri, malam ‘Idul-adha”.[]