Kini Syakban terus berotasi, kita sebagai umat Nabi Muhammad saw., hendaknya keberkahan dan kelebihan bulan ini dapat kita raih dan mengisinya dengan bermacam ibadah. Sebaiknya kita berusaha untuk menghidupkan syiar dan dakwah itu dengan beraneka ragam dan cara.
Terlebih kesempatan emas ini, sering banyak orang melupakannya. Fenomena lalainya manusia di bulan ini telah diabadikan Baginda Rasulullah dalam haidisnya berbunyi: Ini adalah bulan yang sering dilalaikan banyak orang, bulan antara Rajab dan Ramadhan. Ini adalah bulan dimana amal-amal diangkat menuju Rab semesta alam. Dan saya ingin ketika amal saya diangkat, saya dalam kondisi berpuasa. (H.R. An Nasai, Ahmad).
Salah satu malam yang berkah dan menjadi penantian umat Islam yakni malam nisfu Syakban atau dalam pandangan masyarakat Aceh, malam tersebut sering disebut dengan malam beureuat.
Dalam perspektif Hujjatul Islam Imam Ghazali, beliau mengistilahkan malam Nisfu Syakban sebagai malam yang penuh dengan syafaat (pertolongan). Menurut al-Ghazali, pada malam ke-13 bulan Syakban, Allah swt., memberikan seperti tiga syafaat kepada hamba-Nya. Sedangkan pada malam ke-14, seluruh syafaat itu diberikan secara penuh. Dengan demikian, pada malam ke-15, umat Islam dapat memiliki banyak sekali kebaikan sebagai penutup catatan amalnya selama satu tahun.
Fenomena tersebut disebabkan pada malam ke-15 bulan Syakban inilah, catatan perbuatan manusia penghuni bumi akan dinaikkan ke hadapan Allah. Para ulama menyatakan bahwa Nisfu Syakban juga dinamakan sebagai malam pengampunan atau malam magfirah, karena pada malam itu Allah menurunkan pengampunan kepada seluruh penduduk bumi, terutama kepada hamba-Nya yang saleh. Dengan demikian, kita sebagai umat Islam semestinya tidak melupakan begitu saja, bahwa bulan Syakban adalah bulan yang mulia.
Satu hal yang harus diperhatikan bahwa bulan Syakban merupakan bulan persiapan untuk memasuki bulan suci Ramadan. Beranjak dari sini, umat Islam dapat mempersiapkan diri sebaik-baiknya dengan mempertebal keimanan dan memanjatkan doa dengan penuh kekhusyukan.
Barang siapa yang mengagungkan bulan Syakban, bertakwa kepada Allah dan taat kepada-Nya, serta menahan diri dari perbuatan maksiat, maka Allah mengampuni dosanya dan menyelamatkannya pada tahun itu dari segala macam bencana dan penyakit.
Hendaknya dalam kesempatan ini, kita yang masih diberi kesehatan dan umur untuk mengisinya dengan ibadah horizontal dan vertikal.[]



