Senyap perlahan
menyusup mengendap
meski tanpa mengutuk pagi.

Seakan orang orang bermandi cahaya
melepas waktu demi waktu
sambil menyembunyikan takut
bahwa esok belum tentu ada.
Lalu meraka pun sibuk
menjahit malam. menjadikannya perhiasan, 
tersimpan di hati dalam dalam.

Malam terus menyusup mengendap,
menjadi warna atau aroma,
membiarkan benci dan cinta
meloncat di antara celah celah kota.

Apakah kota itu
akan mati di malam waktu?[]

Taufik Sentana
Banyak menulis puisi, telaah dan esai sosial.