Karya: Taufik Sentana*
Malam yang Ajaib
Malam setia berbagi
dalam kumpulan dahaga siang
dari anak manusia yang malang.
Malam seperti bibir kekasih
yang menyimpan dendam
dan racun, tapi ia sayang padamu.
Sebenarnya malam tak menyembunyikan apapun.
Pikiran kita yang kerdil
tak bisa menyibak isyaratnya.
Malam layaknya pakaian
yang meredam hasrat dan gejolakmu
sebelum kelopak pagi
tiba kembali.
Dan kau temui malam
mengikuti celah bayangmu
hingga ke tepian sore
lalu malam menjadi abadi.
Surat dari Rembulan
Dititipkan pada malam yang sempurna
menimpa ranting ranting kecil
sambil mencumbui daundaun.
Angin bisu dan udara tersipu
hewan malam yang jinak dan jenaka
berkisah tentang desa tua
dan kota mati.
Manusia manusia telah pergi
mencari rembulan.
meninggalkan gedung gedung kosong
jalan jalan sunyi
dan rumah rumah yang ditumbuhi belukar.
Peristiwa Penting
Hujan telah reda
sebelum cerita tentang kita
yang terjebak kemarau
dibawa tukang pos.
Nasihat Seorang Musafir
Harapan adalah bayang bayang ketakutanmu. Ia adalah obat keraguan
dan tempat persembunyian terbaik
bagi musafir yang kalah dan rebah.
Setelah engkau mengerti nanti,
kalah dan menang adalah wadah
yang sama dalam menghimpun
pengabdian dan pengorbanan.
Sebelum Pagi
Selesaikan urusan malam ini.
Titipkan sehidangan doa
pada ujung malam
yang sejuk dan rimbun
Lalu esok, akan tetap rahasia
bagi kita berdua.[]
*Lahir 4 Desember 1977
Menulis puisi dan esai sosial budaya di koran lokal/online Aceh. Sedang menyusun antologi indie terbaru
” Password Kebahagiaan” dan ” Kamus Hujan”
Menetap di Aceh Barat.






