MANASSA (Masyarakat Pernaskahan Nusantara) Aceh yang konsen terhadap naskah klasik memamerkan surat ultimatum dari Tgk Chik Ditiro Syekh Muhammad Saman kepada Belanda yang disimpan di Leiden Belanda.
Pameran yang diadakan dalam rangka History Expo PKA -7 di Gedung Edukasi Lt. 2 lokasi Museum Aceh mulai dari 7-15 Agustus 2018.
Surat ultimatum itu ditujukan kepada pejabat Residen Belanda di Banda Aceh bernama van Langen pada tahun 1885 di Koetaradja (Banda Atjeh).
Surat tersebut sangat perlu dipublish sebagai informasi untuk masyarakat Aceh, bahwa pada dasarnya orang-orang Aceh tidak suka berperang.
Hal tersebut sebagaimana tercantum dalam ultimatum Tgk Chik Ditiro bahwa beliau mengharapkan tidak adanya perang, walau Belanda telah menyerang Aceh. Syarat yang beliau ajukan hanya dua poin: tetap berada di Aceh masuk Islam, atau keluar dari Aceh tanpa perang.
Ketua Manassa Hermansyah mengatakan, tujuan dipamerkan surat ultimatum tersebut untuk menyampaikan pesan bahwa Aceh cinta damai, Aceh lebih menghargai HAM dengan tuntunan agama dan adat istiadat.
Tgk Chik Di Tiro menyadari bahwa perang bukan solusi terbaik karena akan menimbulkan kerugian keduanya, baik riil maupun materil.
Namun, masyarakat Aceh akan melawan sampai mati jika agama dan bangsanya dilecehkan.
Ultimatum panglima besar Aceh itupun tidak terbalas lebih dari tiga tahun.
Walaupun sekarang sering digambarkan orang Aceh dulu suka berperang, hal tersebut kesalahan dalam persepsi yang dibangun di masyarakat. Pada dasarnya, orang Aceh menjaga agama dan marwah.
“Gambaran Aceh pungo terhadap orang Aceh dulu yang sering digambarkan oleh orientalis Belanda adalah bentuk gagal paham Belanda terhadap ideologi Aceh” pungkas ketua Manassa Aceh.[](Rel)




