BANDA ACEH – Mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Wen Rimba Raya, menyesalkan adanya statemen tokoh politik di Aceh yang meminta penambahan pasukan Bawah Kendali Operasi (BKO) untuk pengamanan Pilkada Aceh. Dia juga menyorot kampanye politik bakal calon Gubernur Aceh yang ingin membuat perubahan daerah agar menjadi lebih baik.
“Saya ini anak kampung dan bodoh, tapi lebih bodoh lagi orang pintar, mengaku politikus dan calon pemimpin negeri yang bernafsu ingin memimpin Aceh dengah dalih menciptakan perubahan lebih baik. Namun secara kasat mata negeri ini dibuat penuh konflik dan mencekam,” ujar Win Rimba Raya kepada portalsatu.com, Minggu, 18 September 2016 dinihari.
Dia juga melihat pihak yang meminta penambahan pasukan pengamanan dari satuan non-organik ini menunjukkan talenta pemimpin yang ragu. Sosok tersebut juga dinilai tak bernyali menghadapi situasi Aceh yang penuh dinamika kepentingan.
“Di satu sisi (juga) mengabaikan luka hati rakyat demi memenuhi nafsu kekuasaan dengan memutarbalikkan fakta,” katanya.
Wen melihat kondisi perekonomian Aceh saat ini masih karut marut. Menurutnya banyak berita miris pemerintah dengan dana otsus migasnya yang belum mampu mensejahterakan rakyat, serapan tenaga kerja rendah dan meningkatnya angka pengangguran dan kemiskinan.
“Namun kenapa para calon pemimpin dan politikus sama-sama bersuara lantang agar penambahan pasukan pengamanan suatu keharusan yang secara otomatis dibarengi penambahan anggaran,” ujarnya.
Dia lantas mengutip statement Kepala Bappeda Aceh, Prof Ir Amhar Abubakar, MS, terkait dana pengamanan Pilkada Aceh di tahun 2017 sebanyak Rp 32.903.762.100. Namun hingga saat ini, baru tersedia Rp 8 miliar. Ironisnya, kata Wen, dulu sosok yang meminta penambahan pasukan ini juga mengaku dirinya sebagai pejuang dan mensupport perdamaian.
“Anehnya kini malah mengangkangi nilai dan hakikat perdamaian yang tertuang dalam MoU Helsinki dan UUPA serta sama-sama merontokkan satu persatu, kita tak lebih meludahi diri sendiri atau bahkan kita sedang mengajari rakyat untuk mencaci maki, mencibir serta menstempelkan diri bak seorang munafik,” katanya.
Dia turut mengajak semua pihak untuk sepantasnya berpikir secara bersama, bagaimana mewujudkan kesejahteraan rakyat, kadaulatan dan martabat rakyat Aceh melalui efesiensi anggaran pembangunan. Selain itu, dia juga mengajak semua pihak untuk fokus menyelesaikan masalah rakyat dengan meninggalkan kepentingan pribadi atau jongos politik yang akan merugikan rakyat Aceh.
“Jujur, semua rasa aman dan permusuhan datangnya dari kita sendiri bukan dari orang lain. Harapan saya jaga lidah dan malu diri, jangan korbankan anggaran untuk kepentingan rakyat hanya untuk menehuhi nafsu kekuasaan, berjalanlah di atas rel perdamaian atas dasar MoU dan UUPA demi rakyat dan negeri ini,” kata Wen.[](bna)

