Kita yang telah merasa mampu menembus bumi dan langit seakan begitu kuat. Terutama kuat dalam capaian teknologi. Kita telah bisa mendekatkan yang jauh atau menghitung dalam laut, bahkan kita dapat menyaksikan apa yang terjadi di belahan bumi lai pada waktu bersamaan.
Untuk itu manusia berfikir bisa berdiri semata dengan akalnya, atau dengan kekuatan fisik dan kecakapannya. Mungkin ia lupa, dan memang sifatnya lupa, bahwa sesayap nyamukpun tak bisa dia buat. Dan akalnya hanya dapat menilai yang diindera.
Padahal apa yang dicapai manusia sekarang, dalam bidang apapun, bangunan, transportasi, komunikasi dsb justeru semakin menunjukkan ketergantungan manusia untuk.beradaptasi dalam lingkungannya, hingga Allah Beri Ilham berupa daya cipta, fitrah kebaikan dan dorongan dorongan berkemajuan.
Tapi manusia merasa bahwa segala capaiannya adalah kemampuannya sendiri, ia mengganggap dirinya terbebas setelah diberi akal dan lingkungan hidup.
Hingga berkata “waktulah yang membinasakan kami, waktulah yang membatasi kami”.
Lihatlah, apa yang terjadi di sekitar kita sekarang! Kita hanya setitik pasir di hamparan ” pasir galaksi semesta” yang begitu luas.[]
Taufik Sentana
Peminat kajian sufistik


