Innalillahi wainnailaihi rajiun
Tahukah Anda, akhir-akhir ini terdengar kabar duka yang datang dari seluruh penjuru Aceh. Bumi Aceh kembali digemparkan dengan wafatnya alim ulama karismatik Aceh, yaitu Abon Seulimum dan Abuya Djamaluddin Wali.
Rasulullah bersabda Meninggalnya ulama adalah musibah yang tak tergantikan dan sebuah kebocoran yang tidak bisa di tambal. Wafatnya ulama bagaikan bintang yang padam. Meninggalnya satu suku lebih mudah daripada meninggalnya satu orang ulama (HR. Thabrani).
Hal ini merupakan kabar duka sekaligus kabar buruk untuk seluruh masyarakat Aceh. Dengan wafatnya para alim ulama, maka ilmu yang telah ada belum tentu dapat dijalankan oleh manusia secara utuh seperti yang dilaksanakan oleh para ulama ini, karena telah berkurangnya penegak agama dan pewaris para nabi yang menjadi tauladan bagi masyarakat Aceh.
Pada masa sekarang ini, banyak pemimpin yang tidak teguh pada pendiriannya, banyak terjadi diskriminasi dan ketidakadilan, korupsi merajalela, banyak penegak hukum yang rela mendapatkan uang namun mengingkari janjinya. Adapula pemimpin yang memberikan contoh dan ajaran yang baik namun tidak melaksanakan kewajibannya, adapula pemimpin yang melaksanakan ibadah namun tidak mampu memberi arahan yang baik pada masyarakat nya. Hal ini karena banyaknya orang-orang yang menjadi pemimpin tanpa memegang tinggi ajaran agama Islam. Mereka melakukan suatu hal hanya sebagai sekulerisasi semata, ingin dipandang baik dan karismatik namun tidak berpikir bahwa dunia ini hanya tempat persinggahan sementara.
Dalam kitab al-ilmi menjelaskan bahwa Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu sekaligus dari para hamba, akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama, sehingga ketika tidak tersisa lagi seorang alim, maka manusia akan menjadikan orang-orang bodoh sebagai pemimpin lalu mereka ditanya, kemudian mereka akan memberikan fatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat, lagi menyesatkan orang lain. {Shahiih al-Bukhari, kitab al-ilmi, bab Kaifa Yuqbadhul ilmi (I/194, al-Fath)}.
Allah telah mengambil kembali orang-orang alim yang ahli agama yang dapat menjadi sandaran manusia ketika ia tidak tahu apa yang harus dilakukan di dunia. Jadi, apa yang harus kita lakukan sebagai manusia akhir zaman?
Sebagai manusia akhir zaman, sebaiknya tuntunlah diri-sendiri terlebih dahulu kejalan yang lebih baik, sebelum menjadikan diri sebagai panutan orang lain, serta pandai-pandailah memilih pemimpin yang tidak hanya sekadar pemimpin, namun pemimpin yang dapat memberikan fatwa dengan ilmu.
Dengan terdengarnya kabar duka ini dapat menjadikan kita lebih mengingat Allah dan mengingat kematian. Tuntunlah ilmu layaknya satu pohon yang telah kehilangan daunnya, dekatilah ranting-ranting yang masih tersisa, berikan air sebanyanyak-banyaknya sehingga menghasilkan daun yang baru kembali.
Begitu pula dengan ilmu, meski kita telah kehilangan panutan kita, namun laksankanlah ilmu yang telah diberikan, kembangkanlah berdasarkan Al-Quran dan Hadist, agar kita dapat menjadi contoh yang baik dan bermanfaat bagi orang lain. Dengan demikian ilmu itu tidak akan pernah hilang terbawa zaman.
Maka, marilah kita junjung lagi ilmu yang masih tersisa dan ingat kembali bahwa mencari ilmu itu wajib bagi semua umat muslim laki-laki dan muslim perempuan. ( HR. Ibnu Abdil Barr).[]
Cut Putri Nahdia
Mahasiswi Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry, Darussalam, Banda Aceh. Email: cutputrin@gmail.com.

