Masa lalu adalah pulau kealpaan, kenangan dan kehilangan. Bagi kebanyakan orang masa lalu bahkan telah sirna. Namun kaum beriman percaya bahwa masa lalu tersimpan baik dalam Catatan Induk Ilahi, tak ada yang terlewatkan sedikitpun, besar dan kecil akan dihitung dan diungkapkan. Ini sebagai bentuk Keadilan Tertinggi bagi Pemilik semesta dan seluruh kehidupan.

Kaum intelek memahami bahwa masa lalu bisa menghantui, mengganjal jiwa dan merusak siklus relasi individu atau antar-individu. Dari pandangan ini saja, kita tersadar bahwa masa lalu masih belum selesai, masih terbawa dalam realita sehari-hari. Dan kelak, hidup kita di dunia ini akan menjadi masa lalu pula, yang mungkin kita ingin kembali ke dalamnya untuk memperbaiki setiap hal. Tapi saat itu semua telah selesai dan semua akan dipertanggung-jawabkan.

Tiada yang dapat kembali ke masa lalu, sebagaimana kita tak akan kembali ke rahim ibu kita. Tapi kita bisa menghargai masa lalu itu sebagai acuan, pedoman dan pemantik harapan. Dengan masa lalu itu  diri kita terpantik untuk memperbaiki diri, menjaga hubungan baik, meminta maaf atau memaafkan. Sembari meminta Jaminan dari Sisi Rabb Pencipta agar setiap kesalahan terhapus dan setiap amal baik tercatat sempurna. Sebab kita akan terus melaju ke alam hadapan yang abadi.[]

Penulis: Taufik Sentana
Catatan Kecil tentang Baghagia setiap Saat.
Banyak Menulis puisi, esai sosial dan budaya.