Oleh: Thayeb Loh Angen*
Berpikir adalah sesuatu yang tidak disukai oleh sebagian besar orang di dunia dan sangat disukai oleh sebagian kecil orang di dunia.
Manusia adalah mahkluk paling mulia di muka bumi ini karena mampu berpikir, disediakan otak yang menampung akal budi, yang tidak disediakan pada makhluk berotak lainnya, yang hanya memiliki otak reptil atau otak hewan.
Di sudut kecil bumi ini, Aceh, kita dapat bertanya-tanya, bagaimanakah orang-orang di sini berpikir? Samakah dengan orang-orang di Istanbul berpikir?
Samakah cara orang-orang Aceh memandang pemimpin yang zalim dengan cara orang Istanbul memandangnya?
Bagaimana cara orang Aceh menilai orang-orang yang merampok hak rakyat, kemudian bersikap seakan-akan seorang yang terhormat, dan memang orang-orang memperlakukannya secara terhormat.
Mengapa orang-orang ini tidak lagi mengikuti hati nuraninya. Mengapa keberaniannya tidak lebih besar daripada ketakutannya?
Di dalam rimba, para binatang selalu ketakutan terhadap pemangsa yang merupakan raja rimba. Para binatang kelas bawah adalah mangsa, makanan bagi kelas lainnya.
Bagi orang yang menjunjung tinggi nilai akal budi dan kebijaksanaan, niscaya heran pada orang yang menggunakan akalnya untuk memuaskan nafsu kebinatangannya. Misalnya mengambil hak orang lain secara paksa, menipu orang lain untuk kekuasaan, dan sebagainya.
Di mana itu turunan orang-orang kha? Di mana itu orang-orang yang berani mati demi membela kebenaran?
Masihkah ada dalam diri kita? Masih Acehkah kita?[]
*Budayawan.




