Karya: Taufik Sentana
Penyuka prosa sufistik
Banyak menulis puisi dan esai sosial

Masih sedikit
dan selalu sedikit
sedang rahmat
dan nikmat
luas membukit bukit.

Masih sedikit,
amal diri
tak bisa dikata apa.
masih sedikit,
terbelah tercabik,
amal diri takkan berbanding
dengan Pemberian Yang Rahman.

Amat sedikit dan masih sedikit.
rukuk sujud masih sedikit
basah lisan masih sedikit
infaq sedekah juga sedikit
pengorbanan untuk umat apatah lagi.

Betapa hina dan rendah diri ini
segala kesenangan lengkap sempurna
sedang waktu terus menyempit
saat semua dihitung kembali
amal apa yang jadi pegangan?

Duh, apakah rindu menjadi sangsi?
sambil memperhatikan lagi
gelagat hati dan nafsu
gerak fikir dan obsesi
menghisab diri sejadi jadi

Oh…di balik tirai raja’ dan khauf
gairah diri menata kembali
dalam ramadan yang menepi
perlahan siap melambai.

Setiap kita ingin sampai
pada ujung segala penantian
segala kenangan akan sirna
kecuali amal hasanah
dan gerak-ibadat.

Walau selalu takkan pernah cukup
untuk melampaui karuniaNya
sebab nikmat sebij mata saja
belum cukup dengan ibadah
ratusan tahun…..
sedang satu istighfar
butuh seribu istighfar lainnya…..

Duhai…diri yang lemah
mintalah ilham untuk istaqamah
disertai ridha, tawakkal dan syukur
Biarkan semua jadi indah
dalam KetetapanNya.
Biarkan berjalan sesuai tadbirNya*[]

*Tadbir: pengaturan dan penyelesaian urusan.