Oleh Taufik Sentana*
Pada hakikatnya masjid merupakan jantung hati umat Islam. Sebab ia mewakili “representasi” Ka'bah yang menjadi kiblat saat shalat. Oleh karena itu, masjid dalam masyarakat Islam pun hendaknya menjadi “qiblat” tersendiri sebagai langkah awal perbaikan masyarakat.
Sejak awal hijrah Rasul Muhammad SAW ke Madinah, masjidlah yang ia bangun terlebih dahulu, dengan membangun Masjid Quba, lalu Masjid Nabawi. Hal tersebut bukan semata karena struktur masyarakat Islam saat itu masih sederhana, tapi lebih karena masjid dapat memadukan keragaman umat untuk kepentingan bersama. Dengan pendekatan ini memberikan hikmah kepada kita bahwa masjid menjadi bagian dari pranata sosial yang layak dilirik dan dioptimalkan.
Jangan hanya ritus dan seremoni
Walaupun kita menyadari bahwa dengan terbentuknya struktur masyarakat dan sistem pemerintahannya, peran masjid seakan bergeser dari pusat aktivitas umat menjadi bagian dari ritus dan seremoni semata. Ritus dalam arti berfungsi untuk tempat ibadah mahdhah saja, semisal shalat. Seremoni tampil dalam wujud perayaan dan peringatan hari tertentu yang berpusat di masjid. Tidak ada salahnya memang, apalagi bila diniatkan untuk “mengakrabkan” masjid ke benak umat.
Sebab, bila ritus dan seremoni ini menjadi batasan persepsi umat , maka akan semakin jauh harapan kita untuk menjadikan masjid sebagai jantung perbaikan masyarakat.
Di antara tokoh terkini yang intens dalam membangun kesadaran umat tentang masjid ialah Ustaz Abdul Somad. Ia sering memberi tekanan pada upaya kembali ke masjid, memakmurkan dan mengembangkan pusat layanan berbasis masjid. Tidak hanya sebagai pusat pendidikan, tetapi layanan tersebut mencakup semua kebutuhan publik, dari koperasi, tempat bermain hingga praktik dokter spesialis.
Sangat baik kiranya bila mulai tumbuh kesadaran untuk mengoptimalkan dana infak masjid, misalnya untuk kegiatan yang lebih produktif, agar dana itu tidak mengendap dan hanya menjadi bahan informasi jumatan. Seharusnya pihak masjid justru bangga bila kas infaknya tergunakan dengan tepat dan rapi, bukan semata berfokus pada pembangunan fisik, rehab dan sebagainya.
Sedangkan untuk menyemarakkan suasana masjid, bisa kita ambil contoh unik dari Turki, di mana saat anak-anak sudah sampai usia tujuh tahun, mereka ikut karnaval dan pawai yang menunjukkan bahwa mereka sudah dianjurkan untuk menjadi “jamaah” di masjid. Bahkan, pernah diadakan buka puasa bersama “setengah hari” di masjid khusus untuk anak-anak.[]
*Taufik Sentana
Dari Ikatan Dai Indonesia Aceh Barat




