BANDUNG – Keluarga Masyarakat Aceh Bandung Jawa Barat (KAMABA) menyatakan kesiapan mereka menyambut dan memobilisasi suporter untuk mendukung kontingen Aceh pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX 2016 di Jawa Barat. Komitemen tersebut dinyatakan pengurus KAMABA dalam pertemuan dengan delegasi Komite Olaharaga Nasional Indonesia (KONI) Aceh di Wisma Teuku Umar, Jalan Cicendo, Bandung, Jawa Barat, Selasa, 26 Juli 2016.
Delegasi Aceh dipimpin Ketua Harian KONI Aceh Kamaruddin Abu Bakar atau Abu Razak, didampingi Wakil Ketua I Bidang Organisasi Musa Bintang, Sekretaris Umum M. Nasir, MPA., serta Kepala Dinas Pemuda dan Olaraga Aceh (Kadispora) Aceh Asnawi.
Sementara dari KAMABA hadir Ketua Umum Teuku Zilmahram, Wakil Ketua III Anshar dan Sekretaris Umum Syahrial, serta sejumlah pengurus KAMABA lainnya.
Sebelumnya saya ingin menyampaikan terlebih dahulu salam dari Ketua Umum KONI Aceh H. Muzakir Manaf atau Mualem yang berhalangan hadir bersama kita dalam pertemuan ini, kata Abu Razak.
Menurut Abu Razak, silaturahmi antara KONI Aceh dengan KAMABA membahas banyak hal terkait Aceh, khususnya perkembangan di bidang olahraga. Silaturahmi tersebut kemudian menyepakati setidaknya dua hal, yaitu rencana penyambutan kontingen Aceh oleh KAMABA, dan pengerahan suporter untuk memberikan dukungan kepada atlet-atlet yang berlaga di 34 cabang olahraga.
Dari 34 cabang tersebut, tiga cabang di antaranya merupakan cabang eksibisi, yaitu Muaythai, Arung Jeuram dan Barongsai.
Tentunya ini menjadi suatu kebanggan bagi KONI Aceh dan masyarakat Aceh secara umum atas kesediaan KAMABA menyambut kontingen dan mengerahkan suporter. Walaupun atlet-atlet Aceh berlaga di provinsi lain, dengan dukungan yang diberikan oleh KAMABA kita harapkan para atlet seperti sedang berada di tanah kelahiran mereka, Aceh, kata Abu Razak.
Abu Razak menambahkan, pada ajang PON XIX 2016 Jawa Barat September nanti, tentunya para atlet sangat membutuhkan dukungan dan doa dari masyarakat Aceh yang ada di Jawa Barat saat mereka berlaga mempertaruhkan nama Aceh di arena-arena pertandingan.
Secara khusus saya juga meminta dukungan dari KAMABA terkait rencana Aceh menjadi tuan rumah PON Remaja III 2019 dan PON XXI 2024, ujar Abu Razak. Hal senada juga disampaikan oleh Kadispora Aceh Asnawi.
Sementara Sekretari Umum KONI Aceh menjelaskan, dari 34 cabang olaraga yang diikuti Aceh, lokasi pertandingan tersebar di 15 venue yang berada di lima kabupaten/kota se-Jawa Barat. Diharapaknya, dukungan tak hanya dari masyarakat Aceh yang ada di Jawa Barat, tapi juga dari provinsi tetangga seperti Jawa Tengah dan Jakarta.
Teknisnya penyambutan dan pengerahan suporter akan diatur oleh KAMABA, berkoordinasi dengan KONI Aceh, kata M. Nasir.
Menanggapi hasil pertemuan dengan KONI Aceh, Ketua Umum KAMABA Teuku Zilmahram menyatakan bahwa pihaknya siap berusaha semaksimal mungkin, baik saat penyambutan maupun pengerahan suporter.
Kita sangat bangga dan menyambut baik rencana penyambutan dan mobilisasi suporter untuk memberikan dukungan kepada atlet-atlet Aceh. Kita harapkan prestasi Aceh dapat meningkat di PON kali ini, karena ini menyangkut marwah bangsa Aceh. kita siap mundukung,” tegas Teuku Zilmahram.
Penyambutan kontingen, kata Teuku Zilmahram, akan dilakukan sesuai tradisi Aceh. Ada tarian Aceh, peusijuek (tepung tawar) dan doa bersama agar semua kontingen Aceh dapat bertanding dengan maksimal, tanpa hambatan, tanpa cedera.
Kemudian terkait pengerahan suporter, pihak KAMABA mengatakan akan berusaha memberikan yang terbaik. Setelah pertemuan dengan tim KONI Aceh, KAMABA langsung menunjuk koordinator mobilisasi suporter, yaitu Anshar yang merupakan Wakil Ketua III KAMABA, dan Syahrial selaku Sekretaris Umum KAMABA.
Menurut Teuku Zilmahram, masyarakat Aceh yang ada di Jawa Barat memang terkonsentrasi di Kota Bandung. Keseluruhan masyarakat Aceh yang ada di Bandung diperkirakan mencapai lima ribu jiwa, dan diperkirakan 10 ribu jiwa di seluruh provinsi Jawa Barat.
Ini akan kita atur agar di setiap pertandingan yang membutuhkan suporter, atlet-atlet Aceh dipastikan mendapatkan dukungan dari masyarakat Aceh yang ada disini, yang terdiri dari mahasiswa-mahasiwi, dan masyarakat Aceh lainnya dari berbagai profesi, kata Teuku Zilmahram.[] (rel)






