Karya: Taufik Sentana*

Mata Air atau hujan,
mungkin sama  baiknya
Walau kedudukannya tak sama.

Biarlah aku menjadi mata air saja.
Jauh, sunyi, sepi tersendiri.

Bagi yang menginginkan,
pasti menjangkauku:
setitik kebeningan
dan seteguk pengetahuan
akan terhidang bagi si pejalan.

Mungkin letakku di tepi cadas
atau di bawah kaki bukit yang lebat
atau di dalam lipatan tanah liat.

Aku telah menjadi siklus kosmos,
berputar mengitari ritme kejadian.
Terbentur pada peristiwa benda benda
terdampar di kerak kesadaran.
Dan tetiba saja, aku menyangka
bisa segera menjadi hujan.
Menjangkau semua,
dengan cepat atau lambat.[]

*Penyuka prosa sufistik.