Puisi-puisi Karya: Taufik Sentana*
Tamasya Rindu
Inilah jalan tempuh para pencari
dari lorong takwa hingga ke ujung ridha.
Yaitu jalan indah keabadian
dengan selendang ketaatan,
meredam malam
dan membungkus siang.
Engkau yang menempuh jalan ini
akan dibayar dengan sunyi dan asing
tapi matamu memancarkan cahaya dan kerendahan hati.
Jalan ini melampaui khauf dan harap
menembus dahaga dan lapar.
Engkau akan segera lupa apa arti kenyang, sebab makan sehari sekali
melebihi rasa cukup.
Inilah tamasya rindu yang panjang dan melelahkan, bukan karena lari dari rimah dunia. Tapi karena dorongan kehambaan dalam titah penciptaan:
Kitalah yang memilih jalan ilham
untuk kesucian atau kehinaan.
Dalam tamasya ini engkau dapat membasuh luka menjadi tawa
dan merobek sedih menjadi sulaman ma'rifat.
—–
Mata Kekasih
Mata yang dapat
menjamah hatiku
dan memekarkan
rindu abadi
dalam hidangan
Maha Rahman.
Mata itu
tidak akan
membutakan batinmu:
Mata itu
bahkan bisa
menjelma sujud-syahdu.[]
*Peminat sastra sufistik.




