Oleh Taufik Sentana
Kelak di padang mahsyar, mereka yang saling mencinta di dunia tak akan bisa saling memberi manfaat, namun ada pengecualian bagi yang mencinta, bersahabat dan berukhuwah karena ketaqwaan dan keimanan: mereka akan saling memberi syafaat atas izin Allah, demikian FirmanNya dalam sepotong ayat.
Disebut oleh para Alim bahwa setelah ujian ketaatan formal-individual, seorang akan diuji dengan ujian ukhuwah. Lawan dari makna ini adalah, ia yang taat akan diuji dengan sikap permusuhan, perselisihan yang dibesarkan, egoisme, sikap abai dan antipati, hatta merasa bangga dan benar sendiri.
Padahal sejatinya, tahapan ukhuwah itu melampaui rasa sedarah. Rasa ukhuwah menjadikan kecintaan sebagai pupuknya, saling tolong atau taawun sebagai penyangganya dan saling membela sebagai penguat. Kesemua itu dalam rangka bersikap ihsan dan sesuai batasan syariah.
Efek baik yang muncul kemudian adalah iklim sosial yang saling menghargai, sistem yang kuat dan kemudahan dalam penyelesaian beragam perkara. Adapun keabaian kita akan pentingnya merajut ukhuwah akan menyisakan kesulitan, kesempitan dan ketidak-berkahan dalam usaha-usaha komunal kita.
Sesungguhnya apa yang terjadi di internal umat Islam dan kemelut yang mendera umat Islam di belahan negara lain, hanyalah menjadi mata ujian ukhuwah yang perlu kita selesaikan bersama.[]
Taufik Sentana
Peminat kajian sosial dan dakwah.
Anggota Ikatan Dai Indinesia.



