Oleh: Taufik Sentana*
Para empiris sangat percaya pada mata,
semacam jendela akal untuk sampai pada percaya atau hanya kesimpulan saja.
Kaum sebelum kita, saat bersama Musa
mereka meminta agar Tuhan bisa dilihat mata. Padahal apapun yang selama ini kita lihat dan tampak adalah jua bermuara dari Dia: Maka murkalah yang didapat kaum Musa saat itu, mereka disampar petir lalu dihidupkan lagi agar bersyukur dan sadar.
Agaknya perjalanan perdaban kita akan sampai pada pengantar di atas. Menjadikan mata sebagai jendela pengertian utama, padahal ia dan kerabatnya akal diselimuti banyak batasan dan kelemahan. Setidaknya, mata butuh cahaya untuk melihat dan akal butuh pengalaman untuk menyimpulkan. Cahaya dan pengalaman itu apakah ia berdiri sendiri?
Untuk itu kita selalu meminta mata baru agar dapat melihat dengan keasyikan pertama, jujur, spontan dan murni. Syukur, bila itu(peradaban kita, sains dan teknologi) sampai pada Dia yang menjadi Asal segala wujud.[]
*Penyuka prosa sufistik.


