Kubiarkan saja sinar matahari  menimpa sebagian tubuhku saat menunggu sajian secangkir kopi.

Sinar matahari itu tentu bukan sinar yang baru. Sebagaimana mataharinya, ia tetap matahari yang lama bahkan telah menua. Menua bersama bumi dan kisah kisahnya. Kisah lama yang terus berulang.

Disini aku melihat orang orang
 lalu lalang berkendara
atau mereka duduk bersama berbagi ketawa, derita atau berkongsi kesepian.

Mungkin banyak yang mengabaikan sinar matahari pagi dan hanya mengingat secangkir kopi. Mereka hanya butuh pada sinarnya, bukan pada maknanya, bila sinarnya tiadapun mungkin secangkir kopi tetap nikmat. Maka aku tak selalu suka berita koran atau televisi.

Matahari pagi adalah isyarat janji kebaruan dan harapan harapan yang perlu dituntaskan, sebelum matahari itu keluar dari orbitnya atau waktu itu tiba lebih awal untuk kita.

Dan secangkir kopi tadi akan mengisahkan hal yang lain atau hanya sia sia belaka.[]

Taufik Sentana
Peminat Prosa, banyak menulis puisi dan esai sosial.