Males ah ke Aceh, nggak ada bioskop. Nggak bisa bebas pake baju apa aja. Peraturan daerahnya saklek. Suka mati lampu, susah nyari angkutan umum.

Jaringan selular tidak semuanya nyala, tidak ada bioskop. Mall masih se-alakadarnya. Tidak ada dunia “malam”. Apa-apa syariat, apa-apa tidak bebas.

Lalu untuk apa ke Aceh bila tidak bisa seru-seruan layaknya di tempat lain atau di kota besar lainnya. Bukankah berliburan atau berwisata itu butuh kesenangan?

Tidak, itu sama sekali tidak salah. Apa yang kalian rasakan tentang Aceh, benar. Di Aceh memang tidak sama seperti tempat lainnya di Negara Indonesia ini. Perihal jilbab saja, sampai hari ini saya harus menjelaskan panjang lebar. Belum lagi perihal penerapan hukum yang sebagian berlandaskan syariat Islam.

Dan, disinilah letak kesalahan para pendatang atau wisatawan ke Aceh. Mereka mengharapkan “eropa” atau “Bali” di Aceh. Ini sama seperti anda ke papua, lalu anda berharap mendapatkan pizza asli Italia yang lezat tersaji di atas meja makan. Begitupun bila anda ke Aceh. Jangan berharap Aceh akan memberikan pelayanan setingkat Bali atau Bandung. Aceh masih jauh dari itu semua. Akan tetapi, berharaplah sesuatu yang tak pernah anda temukan dari daerah lain.

Selanjutnya klik di >> Mau enak? Jangan ke Aceh!