Pukul 11 malam seorang lelaki Gampong Seurapong yang sering dipanggil Bit Cut mengajak seorang kerabatnya yang baru tiba siang hari itu untuk mencari cumi–cumi di sebuah pantai. Sebelum sampai di pantai yang dimaksudnya itu terlebih dahulu mencari telur penyu di pantai Seurapong.
Malam itu mereka berjalan dalam kegelapan malam dengan masing-masing membawa satu senter, karena meski bintang-bintang terlihat menghiasi langit namun tanpa cahaya rembulan suasana sangat gelap.
Di ujung pantai di dekat tebing bukit ada nyala api. Setelah mendekat di sana terlihat ada beberapa lelaki sedang duduk di dekat api yang dinyalakan di depan sebuah kemah.
Setelah sejam menyusuri pantai, tak ada satu timbunan telur penyu yang dijumpai. “Ini bukan bekas jejak kaki penyu,” kata Bit Cut, Sabtu, 5 Januari 2019, malam.
Dari pantai Seurapong mereka menuju pantai Gugop yang dipenuhi karang-karang berserakan. Di antaranya ada karang yang masih hidup. Di pantai ini terlihat belasan orang dengan berbekal senter sedang mencari cumi-cumi. Bit Cut pun setelah dua jam menyusuri pantai yang digenangi selutut air laut itu hanya mendapat sepuluh cumi-cumi.
“Cumi-cumi bila malam akan keluar, namun bila keadaan di laut ada terpaan angin, cahaya senter yang disorot ke air akan sulit bisa membedakan mana cumi-cumi dan karang disebabkan terhalang oleh kilauan yang berasal dari pantulan cahaya riak, karena warna cumi-cumi dengan karang hampir sama,” katanya.
Bit Cut mengatakan, dari ribuan jiwa penduduk di Pulo Breuh, lebih dari setengah sebagai pelaut, sebagian kecilnya petani lawang, dan lainnya.
Penghubung antara masyarakat di sana dengan luar hanya bisa ditempuh melalui jalur laut dengan 3 dermaga. Dermaga Lampunyang, Gugop, Seurapong, dan satu pelabuhan Ulee Paya namun sampai saat ini belum difungsikan.
Setelah malamnya mencari cumi-cumi, kemudian pada siang di hari kedua, di sana tamu Bit Cut pergi melihat-lihat pemandangan alam seperti ke mercusuar, dan Dermaga Ujong Pineung peninggalan Belanda. Juga ketika melintasi jalanan di Pulo Breuh, sesekali terkadang pengunjung akan menjumpai para petani yang pergi ke ladang mereka dengan berjalan kaki cukup jauh jaraknya.
Soal pesona alam, Pulo Breuh memiliki keindahan alam dan bahari yang sangat indah. Pengunjung juga bisa menikmati keindahan matahari terbit dan terbenam sama seperti di kawasan kota laut seperti di Kota Sabang, Pulau Nasi dan lainnya yang ada di Aceh.
Waktu keberangkatan rute perjalanan kapal dari Pelabuhan Lampulo ke Pulo Breuh, setiap hari cuma berangkat setelah Zuhur, pukul 14:00 WIB. Sedangkan dari Pulo Breuh ke Pelabuhan Lampulo berangkat pukul 7:30 pagi, dengan jarak tempuh perjalanan masing-masing sekitar 2 jam.
Namun ketika kapal keluar dari muara Lampulo, terkadang petugas boat harus memerintahkan penumpang yang duduk di belakang untuk pindah ke depan guna menghindari lambung kapal terseret di pasir karena air laut sedang dalam kondisi surut.
Di tengah perjalanan biasanya akan datang seorang petugas boat, terlihat di tangannya memegang sebuah buku dan satu alat tulis menghampiri satu persatu penumpang mengutip ongkos.
Setiap kapal yang bergerak dari Lampulo menuju Pulo Breuh, biasanya selain mengangngkut beberapa puluh penumpang, juga memuat beragam jenis barang kebutuhan seperti tabung gas, kelontong, dan sebagainya.
Seorang masinis kapal, Muhammad Amin, mengatakan meski boat bisa memuat barang maksimal 34 ton, namun untuk menjaga keseimbangan kapal umumnya ia hanya berani muat 20 ton. Kapasitas yang bisa dipakai oleh penumpang, bisa menampung sekitar seratusan orang. Dalam setiap perjalanan pulang pergi dari Pulo Breuh ke Lampulo, dalam sekali jalan boat itu memerlukan 132 liter solar.
“Tarif perjalanan dari Pulo Breuh ke Banda perorang Rp25 ribu, dan jika membawa kereta, tarifnya 20 ribu untuk membawa ke kapal, untuk boat 25 ribu. Saat sampai ke tujuan 20 ribu, atau seluruhnya sekitar Rp90 ribu,” kata M. Amin.
Selang satu hari, tepatnya setiap Senin, Rabu, dan Sabtu, kapal yang dipakai M. Amin itu kembali dapat giliran bergerak ke Pelabuhan Lampulo. Di lantai bagian depannya terlihat karung-karung lawang, fiber-fiber yang berisi ikan segar dan beragam hasil pertanian lainnya. M. Amin dalam seminggu hanya bekerja pada Senin, Rabu, dan Sabtu.
Guncangan gempa di Barat Daya Banda Aceh, kekuatan 5.1 magnitudo pada 1 Januari 2019 itu, masyarakat Pulo Breuh mengaku juga merasakannya.
“Satu menit sebelum terjadi gempa, kami mendengar ada suara seperti suara mesin mobil meraung menderu menggema dari arah Barat Daya,” kata Bit Cut.[]







