Menteri propaganda Nazi, Jozef Goebbels pernah berkata, “Kebohongan yang diulang-ulang, akan membuat orang banyak jadi percaya, menjelma kebenaran.”
Itulah yang terjadi pada sejumlah kosakata bahasa Indonesia sekarang. Ada sebagian kosakata bahasa Indonesia digunakan secara berulang-ulang oleh sebagian orang tanpa acuh terhadap makna yang sebenarnya dari kata-kata yang digunakan itu.
Sebagian kita ikut-ikutan menggunakan suatu kata dan emoh memeriksa makna sebenarnya kata tersebut. Bagi sebagian kita, yang penting adalah “prestise” dalam menggunakannya. Bagi sebagian lagi mungkin lebih mengutamakan “nilai rasa kehebohan” sebuah kata dan abai terhadap makna hakiki kata itu.
Sebut saja misalnya kata meregang nyawa yang sebagian orang menganggap maknanya sama dengan meninggal (baca: Meregang Nyawa Bukan Meninggal).
Selain meregang nyawa, kata lain yang sudah jamah penggunaannya, tetapi terkesan tidak salah lagi karena dipakai berulang-ulang oleh banyak orang dengan makna yang keliru adalah haru biru atau mengharu biru.
Sebagian pengguna bahasa menganggap, mengharu biru berasal dari mengharukan. Karena kata mengharukan kian dirasakan datar hambar, termasuk sinonimnya, seperti memilukan, mengenaskan, mengibakan, menyentuh, atau menyayat hati, dipilihlah tanpa pikir panjang “mengharu biru”.
Mudah kita menduga, unsur haru di sana telah mengelabui sebagian orang yang memakai atau menerimanya. Lalu, tambahan biru di situ rupanya dikira menguatkan kesan sayu, sedih, mengaduk-aduk perasaan.
Kurang disadari benar adalah, bentuk itu bukan berasal dari kata haru, melainkan dari haru biru yang berarti kerusuhan, keributan, kekacauan, huru-hara (KBBI Daring). Dari bentuk dasar ini, tahulah kita bahwa mengharu biru berarti mengacau, membuat rusuh. Bukan amat mengharukan atau menyayat hati.
Menjadi persoalan adalah apabila teks-teks semacam itu dibaca oleh mereka yang kurang mengerti artinya, tapi serta-merta menyerap keduanya, dalam arti yang keliru. Dari sinilah salah kaprah bermula.
Ungkapan “salah kaprah” yang pernah tinggi frekuensi pemakaiannya dalam perbincangan soal bahasa tadi menyatakan bentuk kesalahan berbahasa yang sudah sedemikian meluas sampai-sampai tak lagi terasa salah.[]
Sumber: beritagar.id



