(Telaah Diksi dalam Puisi “Elegi” Hasbi Burman)

Oleh Taufik Sentana*

 

Calang

Kota yang angkuh // Kapal tak singgah lagi //

Dermaga jadi bingkai // Besi – besi berkarat //

Cinta demi cinta // Tenggelam di laut ini. (1985)

 

Pembuka Kata

Puisi di atas adalah salah satu karya presiden Rex kita, Hasbi Burman (HB). Saya menemukan puisi tersebut dalam Blog Nani HS dengan sumber Aceh Kita.com.2007. Sosok HB tentu tidak asing lagi bagi pelaku kesusastraan  Aceh. Ia telah aktif menulis puisi sejak tahun 60-an. LK Ara menyebutnya dengan daya puisi yang khas, Udin Pelor menyinggung kepribadiannya yang dinilai aneh, sedang Bre Redana (wartawan Kompas) menisbahkan namanya dengan sebutan Presiden Rex.

Dalam petikan wawancara daring, Sapardi Djoko Damono menyebutkan bahwa diantara jasa terbesar dan tugas utama penyair adalah perihal upaya merawat kata-kata, melestarikan dan memperluas cakupan khazanahnya. Sebab memang tidak banyak penyair yang terlibat langsung dalam pergolakan sosial secara frontal. Maka sering kita menjumpai beberapa idiom khas penyair tertentu, seperti “ Aku ini binatang jalang”, Batang usiaku sudah tinggi”, ‘’ Burung – burung kondor” dan banyak lagi, yang kemudian menjadi citra personal si penyair.

Adapun  kutipan puisi “Calang” di awal tadi, merupakan langkah kecil penulis dalam menelusuri rentang (tautan sejarah) diksi  elegi HB yang ia gunakan dalam puisi-puisinya. Upaya ini diperlukan dalam rangka menemu-kenali perasaan terdalam si penyair (HB) yang muncul secara konsisten lewat karya-karyanya. Sehingga memudahkan kita dalam mengapresiasi dan memberikan penilaian terhadap capaian estetis  si penyair. 

Perhatian terhadap pemilihan diksi (kata-kata ) menjadi hal pokok dalam karya seperti puisi khususnya,  sebab kata-kata itu dipilih dan dikonsentrasikan (dikombinasikan) secara serius, demikian menurut H.J Waluyo (1995) sehingga kata-kata tersebut  menjadi khas (istimewa dan estetis), kental dan berkesan di benak pembaca atau pendengar.

Menghargai eksistensi penyair

Adalah satu keistimewaan saat seorang penyair mendapatkan karya puisinya diapresiasi melalui suatu telaah yang intens dalam tajuk jurnal ilmiah atau hanya dalam ulasan ringan. Tradisi mengulas karya penyair ini, sepertinya penting kita galakkan sebagai bentuk penghargaan dan pengakuan atas eksistensi si penyair sehingga masyarakat lebih mudah menikmati karya tersebut dalam spektrum yang lebih luas.

Untuk maksud tersebut, saat mencermati puisi-puisi  “Elegi” HB yang terbit  di Serambi Indonesia pada ahad, 2 September 2018 lalu, penulis  seakan didorong oleh ‘alam bawah sadar’ (karena pantulan dari pilihan diksi yang ditampilkan) untuk mengulas secara khusus atas karya HB tadi.   Kiranya telaah ringan ini  memberikan nilai bagi warna khazanah kesusastraan Aceh dan mempermudah pembaca dalam memahami dan menghayati seberapa jauh dan dalam rasa sedih yang menimpa sang “presiden”.

Memahami diksi dalam potongan puisi HB

Karena keterbasan ruang, penulis tidak dapat menampilkan teks “Elegi” secara utuh. Penulis hanya menampilkan beberapa potongan larik yang erat dengan pembahasan ini.  HB memulai puisinya dari judul “Elegi 1” hingga “Elegi 6”. Kesemuanya terdiri dari lima bait dengan tipografi bebas dan ejaan yang tidak ketat.  Sepertinya penyair juga sengaja tidak menambahkan sub judul dalam kata “Elegi1” dst, sehingga kesedihannya makin tersembunyi dan tak diketahui.

Bait pertama diawali penyair  dengan memilih kata ganti untuk orang kedua; //di rambutmu kubaca angin melayang//  Lalu HB melanjutkan diksinya dengan meracik ungkapan berikut: 

 //…….. dua legenda// menabrak dua kerinduan// di perempatan jalan berkabut //…..merenangi angan dan dusta//  Ungkapan di “rambutmu” pada awal bait menandakan HB sedang menyinggung dan mengingat seseorang (dalam rubriknya  HB tidak menyisipkan tanggal). Pilihan kata “rambutmu” bisa menandakan  seseorang yang ia kagumi, yang merupakan orang  dekat si penyair. Pilihan diksi “rambutmu” (penulis asumsikan ia melihat “rambutmu” dari belakang)  menjadi simbol kenangan yang masih melekat, walau kisah sedih itu sudah lewat. Tentu beda  persepsi kita bila penyair memilih diksi “di matamu”. 

Sedangkan kata “angin” menunjukkan suatu keinginan liar, harapan yang pupus, atau berita tak jelas. Adanya “dua legenda menabrak  dua kerinduan” mengisyaratkan tentang kisah yang telah lama dirawat yang di dalamnya ada cinta dan benci, suka dan duka, hidup dan mati atau fakta dan mitos yang “ Menabrak dua kerinduan (dua insan, Dua Sejoli, sebutan HB dalam puisinya tahun 2017)”. 

Kata “menabrak” menggambarkan kejadian yang spontan dan tak diperkirakan hingga menimbulkan cedera dan melukai dua insan yang saling mencintai (“dua kerinduan”). Kejadian itu berlangsung “ di perempatan jalan berkabut”, suatu kondisi yang sulit dilalui, saat usia tak lagi muda, saat pandangan tertutup oleh ketidak-tahuan atau ketidak-pastian. Hingga akhirnya “angan dan dusta” selalu menghantui penyair sampai ke ujung perjalanannya. Melalui bait pertamanya, penyair tampak betul-betul memperhatikan pilihan kata/diksi yang digunakan untuk menggambarkan suasana batinnya. Upaya ini menunjukkan aliran naturalis dan ekspresionis yang kental dalam diri si penyair. 

Dalam bait kedua, HB membuka diksinya dengan kata ganti orang pertama (aku). //aku bukan penyair jalanan// engkau penulis picisan di atas ombak// seperti nyanyian lutung// melukis angin.melukis pasir yang retak// Si penyair menolak dirinya sebagai penyair jalanan. Kata “jalanan” sebagai petunjuk keterpinggiran, tak berharga, murahan dan keterasingan. Bila ini merujuk ke dirinya, maka HB pernah dekat dengan petinggi publik di Aceh, terutama di masa Bpk. Abdullah Puteh, bahkan ia sempat menghadiahi istri gubernur dengan bait-bait puisinya. Sedangkan “ engkau “ hanya “penulis picisan”, seorang yang jauh karakternya dari si penyair 

( aku), yang berada “di atas ombak” yang akan pecah dan hilang di tepian laut. Di larik selanjutnya si penyair seakan ingin menegaskan bahwa stigma negatif tentang dirinya atau pandangan si “engkau” tadi  hanya “seperti nyanyian lutung” di kejauhan hutan (ia menyebutnya Beutong) yang penuh kesia-siaan dengan “melukis angin. melukis pasir yang retak”.

 Bila dalam bait pertama si penyair tampak sendu, sedih dan haru, maka di bait kedua ini si aku mulai merasa kesal dan ingin marah. Ia menggunakan kata “lupa diri” untuk si “engkau” sebagai sikap sabarnya.

Sekarang kita cermati bait ketiga. Di bait ini HB menggambarkan awal diksinya dengan orang ketiga (dia) // si petarung itu telah menemui kemenagan secara kaplat// ilusi (dalam) laga// angin membuahkan api// kemenangan berwajah luka// Kata “petarung” yang dipilih penyair karena berguna untuk mengarahkan pembaca bahwa si pihak ketiga (“petarung”, dalam sosok yang lebih muda dan tegap) telah merencanakan perlawanan (“menemui kemenangan”, mendapatkan yang diinginkan) dengan akal busuk yang membuahkan marah, dendam, luka yang berujung pada keraguan asli, keraguan yang tak terelakkan oleh si penyair.

Pada bait keempat, HB mengonsentrasikan diksinya  ke penyesalan diri, kesedihan dan kekalahannya (igau ilalang pedih duka tidak terbatas). Pilihan kata “ilalang” sebagai kondisi diri yang lemah dengan perasaan luka yang sangat lebar. Penyair kembali memilih kata “angin”, sebagai bentuk bisikan tak baik, sambil menimpali si “engkau” // angin jugalah yang pegang peranan  dalam rimba dustamu// sehingga keinginan butamu telah membuatmu selalu berdusta. Yang mengakibatkan//bulan telah pecah di langitmu//, dan keindahan serta segala kenangan baik itupun sirna, // karena engkau tersesat dalam cahaya kunang-kunang// Karena si yang dikagumi dan dikasihi memilih binar  kecil “kunang-kunang” untuk penerang jalannya.  Akhir  bait ini merupakan jawaban atas sedih dan perihnya luka itu yang terbawa dalam igaunya; “igau ilalang pedih”. Tapi si penyair masih berupaya untuk tetap menjalali hidup dengan “mencicipi tepi janji (kesendirian) dalam hidangan keci-kecilan”.
 

Untuk menutup ulasan bait keempat ini, mari kita bandingkan perasaan penyair dalam puisi lainnya yang ia tulis tahun 2017 (sepertinya terbit juga di rubrik Budaya Serambi)

“ dua sejoli

burung terbang di atas laut

senja pulang ke sarang

 

Sendiri aku berjalan

dalam kabut senja

juga pulang

ke suram”. (Dua sejoli, Koeta Radja, 2017)

 

Dalam penutup baitnya (Bait kelima), HB, si penyair  hanya bisa mengambil jalan pasrah, sabar dan teguh. Walau kehampaan dan keperihan  datang saat // matahari memanggang rusuk-rusuk jati //  (usia tua dengan beban luka yang menganga, yang ia simpan rapi seperti ruas rusuk), si penyair tetap bersabar meskipun rusuknya // dikoyak badai dari musim ke musim // maaf sajalah, air mata tak mungkin kutumpah lagi//. Dan biarlah  “sayap-sayap kabut (yang) menjadi selendangmu berkibar”, engkau telah memilih jalanmu. 

Sintesa

Demikianlah telaah kecil terhadap lima bait puisi “Elegi” (cerita sedih Hasbi Burman). Puisi “Elegi” tersebut memisualkan kepada kita bagaimana si penyair (HB) dapat menyikapi kesedihan (dan kepahitan hidup?) tanpa bersikap cengeng, terlena dan rapuh (tidak produktif dalam berkarya). Sebagai penyair senior dengan rentang kepenyairan yang panjang (kini usianya 77 tahun), HB  benar-benar berhasil dalam membangun dan meracik diksinya menjadi karya estetis  yang bercorak naturalis (corak yang disukai Azhari ) dan ekspresionis  dengan orientasi ke alam yang kental dan orisinal. Banyak tampilan lambang  alam dalam puisinya;

(Rambut, selendang, laut, pasir, ombak, badai, angin, api, lutung, petarung  bahkan  Calang, Cot Geulumpang  dan Lhokseumawe [dalam puisi yang berbeda] serta lambang alam lainnya)

Adapun diksi-diksi HB dalam puisi Eleginya mengondisikan  kepada kita tentang orang dekatnya (yang ia kasihi) dan si petarung, orang ketiga yang membuahkan dendam, amarah dan luka dalam ujung perjalan si penyair.

 Bila berkaca pada sosoknya yang natural, terbuka dan apa adanya, sangat mungkin puisi ini adalah pengalamannya secara pribadi. Dengan memilih diksi-diksi sebagaimana telah diulas di atas tadi, HB juga berhasil memantulkan suasana sedih seperti sedihnya Chairil Anwar (tokoh yang ia kagumi) dalam “Senja di Pelabuhan Kecil”. Dan apakah hari ini,” Presiden” kita masih  bersedih juga?. Moga apresiasi sederhana ini menghibur dan memberkahi usia beliau.[]

*Taufik Sentana

Guru di MTs.S. Harapan Bangsa Meulaboh. Anggota Tim Pengembang Program di Yayasan Almaghribi untuk SMPIT Teuku Umar.“Password Kebahagiaan” adalah antologi puisi yang akan dirampungkan. Memilih setia pada kata-kata sejak 1994. Pernah bergabung di FLP Aceh Periode Awal. Diantara ulasan penulis adalah;” Menyibak Bulir-bulir Mutiara dari Pantai Barat”, Jejak Pembunuhan dalam (salah satu) sajak Wiratmadita, Menangkap Makna dalam Puisi Sound of Baiturrahman, Dol. CP). Sedang bergiat di Forum Literasi Indonesia.

Emai-Taufksentana@gmaill.com.